Effendi mengatakan, upaya tersebut diperlukan karena pengembangan UHN tidak cukup hanya mengandalkan anggaran rutin. Yayasan juga tengah mengupayakan rencana pembangunan rumah sakit bertaraf internasional bernama Nommensen International Hospital serta pengembangan Smart Campus UHN.
Kedua proyek strategis tersebut diperkirakan membutuhkan total investasi sekitar Rp1 triliun. Menurut Effendi, pengembangan fasilitas pendidikan dan kesehatan itu diharapkan menjadi bagian dari langkah jangka panjang untuk memperkuat daya saing UHN sekaligus memperluas kontribusinya kepada masyarakat.
Tantangan pembenahan UHN juga menjadi perhatian Ephorus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Pdt. Dr. Victor Tinambunan. Ia mengingatkan bahwa sejarah panjang dan nama besar universitas harus diikuti kerja nyata untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Victor mengapresiasi berbagai kemajuan yang telah dicapai UHN. Namun, ia menegaskan perlunya pembenahan berkelanjutan, mulai dari kualitas dosen, penelitian, pembelajaran, tata kelola, hingga relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat.
“Kita tetap perlu berpikir serius dan bekerja lebih sungguh lagi untuk meningkatkan kualitas kampus, kualitas dosen, penelitian, pembelajaran, tata kelola, serta relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Di tengah berbagai tantangan itu, Rektor UHN Medan, Dr. Richard A.M. Napitupulu, S.T., M.T., menargetkan universitas tersebut menjadi world-class university atau perguruan tinggi kelas dunia.
Richard mengatakan, UHN yang telah berdiri selama 72 tahun berhasil meraih akreditasi institusi unggul dan memiliki sembilan program studi dengan akreditasi unggul. Capaian itu menjadi modal untuk melanjutkan peningkatan kualitas akademik dan daya saing universitas.
“Ketika kami dilantik menjadi rektor, belum ada satu pun program studi unggul di Universitas HKBP Nommensen,” ujarnya.
Editor : Jafar Sembiring
Artikel Terkait
