Selain Albert, kisah perjuangan juga datang dari Zulfi Akbar Harahap, lulusan Teknik Metalurgi ITB. Ia tumbuh dari keluarga sederhana, dengan ayah seorang kuli bangunan dan ibu rumah tangga. Harapan sang ayah agar anaknya menjadi sarjana menjadi motivasi utama dalam perjuangannya.
"Melalui beasiswa dari CT Arsa Foundation, kerja keras, dan kegigihan, saya menempuh studi sambil mengajar untuk menambah biaya hidup di Bandung," tuturnya.
Di tengah keterbatasan, Zulfi memilih untuk tetap disiplin dan gigih. Perjuangannya membuahkan hasil, ia berhasil lulus dan diterima di perusahaan multinasional, sembari membawa harapan untuk membantu keluarga.
Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara, menegaskan bahwa wisuda bukan hanya milik lulusan, tetapi juga keluarga dan semua pihak yang terlibat dalam perjalanan pendidikan mereka.
"Bahwa di balik setiap toga ada cinta, doa, dan pengorbanan banyak orang. Selain itu, ilmu tidak berhenti pada gelar, tetapi harus menjadi alat untuk membangun masa depan bangsa dan memberi manfaat bagi orang lain," ujarnya.
"Kemajuan bangsa tidak lahir dari orang-orang yang hanya cemerlang secara pribadi, melainkan dari mereka yang mampu berkolaborasi dan menggunakan ilmunya bagi masyarakat," kata Tatacipta.
Kisah ini menjadi pengingat bagi banyak anak muda di Medan bahwa keterbatasan bukan akhir dari segalanya, melainkan titik awal untuk membuktikan bahwa mimpi tetap bisa diperjuangkan.
Editor : Ismail
Artikel Terkait
