Paten! Anak Sopir Angkot Medan Ini Lulusan Terbaik ITB, Kisahnya Bikin Haru

Puti Aini Yasmin
Wisudawan ITB Albert Lukas Pithel Hasugian. (Foto: ITB)

JAKARTA, iNewsMedan.id- Lahir dari keluarga sederhana di Medan tak membuat Albert Lukas Pithel Hasugian menyerah pada keadaan. Anak seorang sopir angkot ini justru berhasil menjadi lulusan terbaik di Institut Teknologi Bandung (ITB) .

Dalam sidang terbuka wisuda kedua tahun akademik 2025/2026 ITB, Albert yang merupakan lulusan Program Studi Kewirausahaan, Sekolah Bisnis dan Manajemen, membagikan kisah perjalanannya meraih mimpi.

"Mimpi kuliah di ITB dulu terasa sangat jauh," ucapnya.

Keterbatasan ekonomi keluarga sempat membuat cita-cita itu tampak sulit diraih. Namun, ia tidak menyerah. Dukungan orang tua, lingkungan, serta bantuan beasiswa menjadi kekuatan yang mendorongnya terus maju.

"Namun atas dorongan orang tua dan keyakinan terhadap pentingnya pendidikan, serta dukungan beasiswa KIP-K, dosen, mentor, dan teman-teman saya mampu terus melangkah hingga menuntaskan studi," sambungnya.

Albert juga mengingat pesan kuat dari keluarganya yang selalu ia pegang teguh, yakni filosofi “Anakkon Hi Do Hamoraon di Au”, yang berarti anak adalah harta paling berharga.

Kelulusannya menjadi bukti bahwa latar belakang bukan penghalang untuk meraih cita-cita.

"Perjalanan di ITB mengajarkan bahwa seseorang tidak harus memiliki segalanya untuk memulai, cukup memiliki alasan untuk tidak berhenti," katanya.

Selain Albert, kisah perjuangan juga datang dari Zulfi Akbar Harahap, lulusan Teknik Metalurgi ITB. Ia tumbuh dari keluarga sederhana, dengan ayah seorang kuli bangunan dan ibu rumah tangga. Harapan sang ayah agar anaknya menjadi sarjana menjadi motivasi utama dalam perjuangannya.

"Melalui beasiswa dari CT Arsa Foundation, kerja keras, dan kegigihan, saya menempuh studi sambil mengajar untuk menambah biaya hidup di Bandung," tuturnya.

Di tengah keterbatasan, Zulfi memilih untuk tetap disiplin dan gigih. Perjuangannya membuahkan hasil, ia berhasil lulus dan diterima di perusahaan multinasional, sembari membawa harapan untuk membantu keluarga.

Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara, menegaskan bahwa wisuda bukan hanya milik lulusan, tetapi juga keluarga dan semua pihak yang terlibat dalam perjalanan pendidikan mereka.

"Bahwa di balik setiap toga ada cinta, doa, dan pengorbanan banyak orang. Selain itu, ilmu tidak berhenti pada gelar, tetapi harus menjadi alat untuk membangun masa depan bangsa dan memberi manfaat bagi orang lain," ujarnya.

"Kemajuan bangsa tidak lahir dari orang-orang yang hanya cemerlang secara pribadi, melainkan dari mereka yang mampu berkolaborasi dan menggunakan ilmunya bagi masyarakat," kata Tatacipta.

Kisah ini menjadi pengingat bagi banyak anak muda di Medan bahwa keterbatasan bukan akhir dari segalanya, melainkan titik awal untuk membuktikan bahwa mimpi tetap bisa diperjuangkan.

Editor : Ismail

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network