Secara esensial, hadis ini memiliki dua pesan utama. Pertama, karena puasa adalah ibadah besar, maka segala hal yang mendukung kelancarannya ikut bernilai pahala. Kedua, tidur menjadi pilihan yang lebih mulia jika alternatifnya adalah melakukan maksiat.
Oleh karena itu, hadis ini seharusnya memotivasi umat Muslim untuk lebih bijak mengatur waktu. Tidur bukanlah tujuan utama puasa, melainkan instrumen untuk menjaga kesiapan spiritual agar Ramadhan dapat dilalui dengan maksimal.
Editor : Jafar Sembiring
Artikel Terkait
