MEDAN, iNewsMedan.id - Memasuki bulan suci Ramadhan 2026, fenomena "balas dendam" dengan tidur seharian sering kali terlihat di tengah masyarakat.
Banyak yang berdalih pada hadis populer bahwa tidurnya orang berpuasa adalah ibadah, namun pemahaman ini kerap melenceng menjadi pembenaran untuk bermalas-malasan.
Agar tidak salah kaprah dalam meraih pahala, umat Muslim perlu memahami batasan dan niat yang benar di balik istirahat saat menjalankan rukun Islam keempat ini.
Melansir laman resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI), bunyi hadis yang populer tersebut adalah sebagai berikut:
نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ وَذَنْبُهُ مَغْفُوْرٌ
“Tidurnya orang puasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, amal ibadahnya dilipatgandakan, doanya dikabulkan, dan dosanya diampuni.” (HR. Baihaqi).
Dalam kitab magnum opus-nya, Ihya Ulumiddin, Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa banyak umat Muslim yang salah memahami maksud hadis tersebut. Alih-alih meningkatkan produktivitas spiritual, banyak yang justru menjadikan tidur sebagai kedok untuk membuang waktu.
Padahal, menurut Imam al-Ghazali, salah satu adab dalam menjalankan puasa adalah tidak memperbanyak tidur pada siang hari agar rasa haus dan lapar tetap terasa sebagai bentuk pengabdian kepada Allah.
Meski tidur sering dikaitkan dengan aktivitas yang tidak produktif, dalam konteks Ramadhan, hal ini bisa bernilai ibadah jika memenuhi syarat tertentu:
- Niat yang Benar: Istirahat ditujukan untuk memulihkan tenaga agar kuat menjalankan shalat tarawih, tadarus Al-Qur'an, atau bangun sahur.
- Sarana Penunjang Ibadah: Tidur dianggap ibadah apabila berfungsi sebagai pendukung kesehatan fisik demi menjaga kelancaran aktivitas spiritual lainnya.
- Menghindari Maksiat: Tidur jauh lebih baik daripada terjaga tetapi digunakan untuk melakukan perbuatan dosa, seperti menggunjing (ghibah) atau menonton hal-hal yang tidak bermanfaat.
Secara esensial, hadis ini memiliki dua pesan utama. Pertama, karena puasa adalah ibadah besar, maka segala hal yang mendukung kelancarannya ikut bernilai pahala. Kedua, tidur menjadi pilihan yang lebih mulia jika alternatifnya adalah melakukan maksiat.
Oleh karena itu, hadis ini seharusnya memotivasi umat Muslim untuk lebih bijak mengatur waktu. Tidur bukanlah tujuan utama puasa, melainkan instrumen untuk menjaga kesiapan spiritual agar Ramadhan dapat dilalui dengan maksimal.
Editor : Jafar Sembiring
Artikel Terkait
