Dalam kitab magnum opus-nya, Ihya Ulumiddin, Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa banyak umat Muslim yang salah memahami maksud hadis tersebut. Alih-alih meningkatkan produktivitas spiritual, banyak yang justru menjadikan tidur sebagai kedok untuk membuang waktu.
Padahal, menurut Imam al-Ghazali, salah satu adab dalam menjalankan puasa adalah tidak memperbanyak tidur pada siang hari agar rasa haus dan lapar tetap terasa sebagai bentuk pengabdian kepada Allah.
Meski tidur sering dikaitkan dengan aktivitas yang tidak produktif, dalam konteks Ramadhan, hal ini bisa bernilai ibadah jika memenuhi syarat tertentu:
- Niat yang Benar: Istirahat ditujukan untuk memulihkan tenaga agar kuat menjalankan shalat tarawih, tadarus Al-Qur'an, atau bangun sahur.
- Sarana Penunjang Ibadah: Tidur dianggap ibadah apabila berfungsi sebagai pendukung kesehatan fisik demi menjaga kelancaran aktivitas spiritual lainnya.
- Menghindari Maksiat: Tidur jauh lebih baik daripada terjaga tetapi digunakan untuk melakukan perbuatan dosa, seperti menggunjing (ghibah) atau menonton hal-hal yang tidak bermanfaat.
Editor : Jafar Sembiring
Artikel Terkait
