Ketika Perang Tabuk usai dan Nabi SAW dalam perjalanan pulang menuju Madinah, tepatnya di sebuah tempat bernama Dzu Awan, langit memberikan jawaban. Allah Ta'ala tidak membiarkan Nabi-Nya terjebak dalam tipu muslihat tersebut.
Malaikat Jibril turun membawa Surah At-Taubah ayat 107:
"Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan bencana (dhiraran), untuk kekafiran, untuk memecah belah antara orang-orang mukmin, serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu..."
Ayat ini dengan sangat gamblang menyebutkan empat tujuan jahat mereka yakni
1. Dhiraran: Menimbulkan bahaya bagi umat Islam.
2. Kufran: Menjadi pusat kekafiran.
3.Tafriqan: Memecah belah persatuan kaum mukminin.Irshadan:
4. Menjadi pos pantau bagi musuh (Abu Amir).
Begitu mengetahui niat busuk tersebut, Rasulullah SAW bertindak tegas. Beliau tidak ingin ada "duri dalam daging" di Madinah. Beliau segera memanggil beberapa sahabat, di antaranya Ashim bin Adi dan Malik bin ad-Dukhsyum.Perintah Nabi sangat jelas dan keras: "Pergilah kalian ke bangunan yang pemiliknya zalim ini, hancurkan dan bakarlah!"
Kedua sahabat itu berlari menuju lokasi. Malik mengambil pelepah kurma yang dibakar dan mereka segera menyerbu bangunan tersebut. Saat itu, orang-orang di dalamnya sedang berkumpul. Bangunan itu dibakar dan diratakan dengan tanah.
Sisa-sisanya kemudian dijadikan tempat pembuangan sampah, agar tidak ada lagi kemuliaan yang tersisa bagi tempat yang dibangun di atas dasar pengkhianatan.
Melalui peristiwa ini, Allah mengajarkan perbedaan antara Masjid Quba yang dibangun atas dasar takwa dan Masjid Dhirar yang dibangun atas dasar keraguan dan makar.
Jadi suatu amal, meskipun tampak suci seperti membangun masjid, jika niat di baliknya adalah untuk menghancurkan agama dari dalam atau memecah belah umat, maka amal tersebut tidak bernilai di mata Allah.
Hingga kini, istilah "Masjid Dhirar" sering digunakan sebagai metafora bagi institusi atau gerakan yang mengatasnamakan agama namun sebenarnya bertujuan untuk merusak tatanan umat dan menebar fitnah.
Editor : Vitrianda Hilba SiregarEditor Jakarta
Artikel Terkait
