WALHI Sumut Tuding Aktivitas 7 Perusahaan di Tapanuli Penyebab Bencana Ekologis

Ismail
foto citra satelit (2024) bukaan hutan tambang emas di kec Batang Toru, kabupaten Tapanuli Selatan. Foto: Istimewa

WALHI juga menemukan bahwa kawasan hutan di sejumlah titik telah berubah menjadi kebun kayu rakyat, sementara pembukaan melalui skema pemanfaatan kayu tumbuh alami menyebabkan degradasi sekitar 1.500 hektare koridor satwa dalam tiga tahun terakhir. Kondisi ini memperburuk fungsi hutan sebagai pelindung dari banjir dan erosi.

Menurut Rianda, banyaknya gelondongan kayu yang terlihat dalam banjir besar di kawasan Jembatan Trikora menjadi indikasi kuat bahwa pembukaan hutan terjadi masif di hulu aliran sungai.

“Setiap banjir membawa kayu-kayu besar, dan citra satelit menunjukkan hutan gundul di sekitar lokasi. Ini bukti campur tangan manusia melalui kebijakan yang memberi ruang pembukaan hutan.”

Ia menegaskan bahwa bencana kali ini bukan sekadar fenomena alam semata.

“Ini adalah bencana ekologis akibat kegagalan negara mengendalikan kerusakan lingkungan.”

WALHI juga menyoroti rencana perluasan fasilitas tailing milik salah satu pelaku usaha di Tapanuli Selatan yang akan membuka 583 hektare lahan baru, termasuk penebangan ratusan ribu pohon. Berdasarkan temuan WALHI, sekitar 120 hektare lahan sudah dibuka, sementara dokumen dampak lingkungan kegiatan tersebut sendiri memuat risiko perubahan pola aliran sungai, penurunan kualitas air, hingga hilangnya vegetasi dan habitat satwa.

Editor : Ismail

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network