WALHI juga menemukan bahwa kawasan hutan di sejumlah titik telah berubah menjadi kebun kayu rakyat, sementara pembukaan melalui skema pemanfaatan kayu tumbuh alami menyebabkan degradasi sekitar 1.500 hektare koridor satwa dalam tiga tahun terakhir. Kondisi ini memperburuk fungsi hutan sebagai pelindung dari banjir dan erosi.
Menurut Rianda, banyaknya gelondongan kayu yang terlihat dalam banjir besar di kawasan Jembatan Trikora menjadi indikasi kuat bahwa pembukaan hutan terjadi masif di hulu aliran sungai.
“Setiap banjir membawa kayu-kayu besar, dan citra satelit menunjukkan hutan gundul di sekitar lokasi. Ini bukti campur tangan manusia melalui kebijakan yang memberi ruang pembukaan hutan.”
Ia menegaskan bahwa bencana kali ini bukan sekadar fenomena alam semata.
“Ini adalah bencana ekologis akibat kegagalan negara mengendalikan kerusakan lingkungan.”
WALHI juga menyoroti rencana perluasan fasilitas tailing milik salah satu pelaku usaha di Tapanuli Selatan yang akan membuka 583 hektare lahan baru, termasuk penebangan ratusan ribu pohon. Berdasarkan temuan WALHI, sekitar 120 hektare lahan sudah dibuka, sementara dokumen dampak lingkungan kegiatan tersebut sendiri memuat risiko perubahan pola aliran sungai, penurunan kualitas air, hingga hilangnya vegetasi dan habitat satwa.
Editor : Ismail
Artikel Terkait
