get app
inews
Aa Text
Read Next : Wisuda 1.586 Mahasiswa, Rektor USU Ingatkan Tantangan Dunia Kerja

Riset USU-UKM Ungkap Masyarakat Belum Siap Hadapi Banjir

Jum'at, 31 Juli 2026 | 13:48 WIB
header img
Dosen Universitas Sumatera Utara (USU), Destanul Aulia, memaparkan hasil observasi awal mengenai kerentanan dan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi banjir dalam forum kolaborasi riset Indonesia-Malaysia di Medan, Jumat (31/7/2026). Foto: Istimewa

Tim peneliti juga mencatat banjir dapat memperbesar ancaman kesehatan akibat genangan air, pencemaran sumur, limbah ternak, hingga bangkai hewan. Kondisi itu berpotensi memicu munculnya berbagai penyakit seperti demam berdarah, malaria, chikungunya, diare, disentri, demam tifoid, ISPA, dermatitis, hingga leptospirosis.

"Kelompok yang paling rentan terdampak meliputi bayi, balita, ibu hamil, lanjut usia, penyandang disabilitas, serta masyarakat yang memiliki penyakit kronis," paparnya.

Karena itu, tim peneliti merekomendasikan berbagai langkah pencegahan, antara lain membersihkan lumpur dan genangan, menyediakan air bersih, mengendalikan perkembangbiakan nyamuk, mengelola limbah ternak, menggunakan alat pelindung diri saat membersihkan lingkungan, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala penyakit.

Selain kesehatan, penelitian juga menyoroti pentingnya ketahanan pangan keluarga. Pekarangan rumah yang dimanfaatkan untuk menanam sayuran, buah, maupun beternak terbukti membantu memenuhi kebutuhan pangan dan menambah pendapatan. Namun saat banjir datang, lahan tersebut ikut terdampak sehingga produktivitas rumah tangga menurun.

Aspek kesiapsiagaan bencana juga menjadi perhatian utama. Dari hasil observasi di lokasi penelitian, jalur evakuasi belum ditetapkan, titik kumpul berada di lokasi yang juga terdampak banjir, sementara posko pengungsian resmi belum tersedia.

"Kesiapsiagaan bencana masih menjadi persoalan utama. Jalur evakuasi belum ditetapkan maupun disosialisasikan, titik kumpul berada di musala yang turut terendam banjir, serta belum tersedia posko pengungsian resmi saat bencana terjadi," tambah Destanul.

Akibat keterbatasan tersebut, warga memilih mendirikan tenda darurat di lokasi yang lebih tinggi. Penelitian juga menemukan belum terbentuknya tim siaga bencana maupun relawan yang terorganisasi, sementara sistem peringatan dini belum berjalan optimal.

Meski demikian, riset mencatat masyarakat memiliki modal sosial yang kuat. Solidaritas terlihat saat proses evakuasi, distribusi bantuan, hingga gotong royong membersihkan lingkungan setelah banjir surut.

"Meski demikian, masyarakat memiliki modal sosial yang kuat. Solidaritas antarwarga terlihat saat proses evakuasi, pembagian makanan, hingga gotong royong membersihkan lingkungan setelah banjir. Tokoh masyarakat, tokoh agama, pemerintah desa, sekolah, serta berbagai instansi juga dinilai memiliki potensi besar untuk diperkuat dalam membangun ketangguhan masyarakat," jelasnya.

Editor : Ismail

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut