Riset USU-UKM Ungkap Masyarakat Belum Siap Hadapi Banjir
MEDAN, iNewsMedan.id – Banjir tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga memunculkan persoalan kesehatan, sanitasi, hingga lemahnya sistem mitigasi di tingkat masyarakat. Kondisi itu menjadi sorotan dalam riset kolaborasi Universitas Sumatera Utara (USU) dan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) yang mengkaji ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana banjir.
Temuan tersebut dipaparkan dalam Forum Kolaborasi Internasional dan Diseminasi Hasil Observasi Awal, Jumat, 31 Juli 2026. Penelitian menggunakan Desa Padang Tualang sebagai lokasi observasi awal untuk memetakan kerentanan masyarakat sekaligus menyusun rekomendasi intervensi berbasis bukti ilmiah.
Dosen USU, Destanul Aulia, mengatakan hasil observasi menunjukkan masyarakat masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari sanitasi, kesehatan, kesiapsiagaan bencana hingga kapasitas adaptasi.
Di lokasi penelitian, warga mengandalkan sumur bor sebagai sumber air utama. Ketersediaan air bersih dinilai cukup, namun kualitasnya belum selalu stabil sehingga sebagian masyarakat memilih menggunakan air kemasan untuk konsumsi.
Sebagian besar rumah telah memiliki jamban sehat, septic tank, dan fasilitas cuci tangan. Namun, sistem drainase masih belum memadai sehingga aliran air kerap tersendat dan belum tersedia saluran khusus pembuangan limbah rumah tangga.
"Sebagian besar rumah sudah memiliki jamban sehat, septic tank, dan tempat mencuci tangan. Namun saluran drainase masih belum memadai sehingga aliran air tidak lancar dan belum tersedia saluran khusus pembuangan air limbah rumah tangga," ujar Destanul, Jumat (31/7/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi memicu pencemaran lingkungan sekaligus meningkatkan risiko penyakit berbasis lingkungan.
Tim peneliti juga mencatat banjir dapat memperbesar ancaman kesehatan akibat genangan air, pencemaran sumur, limbah ternak, hingga bangkai hewan. Kondisi itu berpotensi memicu munculnya berbagai penyakit seperti demam berdarah, malaria, chikungunya, diare, disentri, demam tifoid, ISPA, dermatitis, hingga leptospirosis.
"Kelompok yang paling rentan terdampak meliputi bayi, balita, ibu hamil, lanjut usia, penyandang disabilitas, serta masyarakat yang memiliki penyakit kronis," paparnya.
Karena itu, tim peneliti merekomendasikan berbagai langkah pencegahan, antara lain membersihkan lumpur dan genangan, menyediakan air bersih, mengendalikan perkembangbiakan nyamuk, mengelola limbah ternak, menggunakan alat pelindung diri saat membersihkan lingkungan, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala penyakit.
Selain kesehatan, penelitian juga menyoroti pentingnya ketahanan pangan keluarga. Pekarangan rumah yang dimanfaatkan untuk menanam sayuran, buah, maupun beternak terbukti membantu memenuhi kebutuhan pangan dan menambah pendapatan. Namun saat banjir datang, lahan tersebut ikut terdampak sehingga produktivitas rumah tangga menurun.
Aspek kesiapsiagaan bencana juga menjadi perhatian utama. Dari hasil observasi di lokasi penelitian, jalur evakuasi belum ditetapkan, titik kumpul berada di lokasi yang juga terdampak banjir, sementara posko pengungsian resmi belum tersedia.
"Kesiapsiagaan bencana masih menjadi persoalan utama. Jalur evakuasi belum ditetapkan maupun disosialisasikan, titik kumpul berada di musala yang turut terendam banjir, serta belum tersedia posko pengungsian resmi saat bencana terjadi," tambah Destanul.
Akibat keterbatasan tersebut, warga memilih mendirikan tenda darurat di lokasi yang lebih tinggi. Penelitian juga menemukan belum terbentuknya tim siaga bencana maupun relawan yang terorganisasi, sementara sistem peringatan dini belum berjalan optimal.
Meski demikian, riset mencatat masyarakat memiliki modal sosial yang kuat. Solidaritas terlihat saat proses evakuasi, distribusi bantuan, hingga gotong royong membersihkan lingkungan setelah banjir surut.
"Meski demikian, masyarakat memiliki modal sosial yang kuat. Solidaritas antarwarga terlihat saat proses evakuasi, pembagian makanan, hingga gotong royong membersihkan lingkungan setelah banjir. Tokoh masyarakat, tokoh agama, pemerintah desa, sekolah, serta berbagai instansi juga dinilai memiliki potensi besar untuk diperkuat dalam membangun ketangguhan masyarakat," jelasnya.
Sementara itu, dosen Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Dr. Nor Diana Mohd. Idris, menjelaskan penelitian menggunakan pendekatan Livelihood Vulnerability Index (LVI) untuk mengukur tingkat kerentanan rumah tangga dalam menghadapi banjir maupun perubahan iklim.
Menurutnya, pendekatan tersebut tidak hanya mengukur tingkat kerentanan, tetapi juga mengidentifikasi faktor penyebabnya sehingga kebijakan yang disusun benar-benar sesuai dengan kondisi masyarakat.
"Tujuan akhirnya bukan sekadar mengetahui masyarakat rentan atau tidak, tetapi memahami mengapa mereka rentan sehingga kita dapat menyusun intervensi yang tepat sasaran," ujarnya.
Ia menegaskan setiap rekomendasi harus dibangun berdasarkan bukti ilmiah, bukan asumsi semata.
"Kita tidak boleh membuat intervensi hanya berdasarkan persepsi. Setelah tingkat kerentanan diukur melalui data kuantitatif, peneliti harus kembali berdiskusi dengan masyarakat untuk memastikan hasil pengukuran benar-benar menggambarkan kondisi yang mereka alami," katanya.
Melalui kolaborasi ini, hasil penelitian diharapkan tidak berhenti sebagai publikasi akademik, tetapi menjadi rujukan dalam merumuskan kebijakan yang mampu meningkatkan kesiapsiagaan dan ketangguhan masyarakat di wilayah rawan banjir.
Editor : Ismail