Destanul Aulia menambahkan, ketangguhan permukiman tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat mobil pemadam tiba. Warga juga harus mampu mengenali risiko, memberikan peringatan, melaporkan kejadian, melakukan respons awal secara aman dan membantu evakuasi kelompok rentan.
Karena itu, masyarakat didorong terlibat sejak pemetaan risiko hingga simulasi. "Pengetahuan warga mengenai gang sempit, titik rawan korsleting, lokasi sumber air, rumah warga rentan dan jalur alternatif evakuasi menjadi bagian penting dalam sistem penanggulangan kebakaran," ucap Destanul
Dalam forum tersebut juga ditekankan perlunya pembagian tugas yang jelas antarinstansi. Kelurahan diharapkan menjadi titik koordinasi antara Damkarmat, BPBD, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman, Dinas Kesehatan, aparat wilayah, relawan, perguruan tinggi, dunia usaha dan masyarakat.
Imran Doni Fauzi menegaskan implementasi RISPKP harus berbasis risiko, bukan sekadar menghitung jumlah armada atau pos pemadam. Sistem tersebut harus dimulai dari pemetaan risiko, penentuan wilayah pelayanan, ketersediaan sumber air, penempatan pos, kesiapan personel dan armada hingga sistem komunikasi dan evaluasi.
Editor : Ismail
Artikel Terkait
