Sentil Anggota DPRD Medan, Pengamat Tegaskan Kritik Ekonomi Harus Berbasis Data Valid

Jafar
Kantor Wali Kota Medan. Foto: Istimewa

MEDAN, iNewsMedan.id - Pengamat Ekonomi dari Universitas Pancabudi Medan, DR Bakhtiar Effendi SE, M.Si, menyentil kritik Anggota DPRD Medan, Godfried Effendi Lubis, yang menyebut pertumbuhan ekonomi dan inflasi di Kota Medan tinggi akibat kegagalan kepemimpinan. Menurutnya, kritik tersebut tidak didasari oleh data yang valid.

"Kritikan seorang Anggota DPRD Medan, Godfried Effendi Lubis terhadap pertumbuhan ekonomi itu sepertinya tidak membaca data. Saya menyampaikan ini supaya tidak terjadi konsumsi informasi yang liar dan tak berdasar," tegas Bakhtiar, Kamis (27/8/2026).

Bakhtiar memaparkan data resmi yang disampaikan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian pada medio April 2026, di mana pertumbuhan ekonomi Kota Medan di bawah kepemimpinan Wali Kota Rico Waas mencatatkan angka 6,54 persen angka tertinggi pasca-pandemi COVID-19.

Keberhasilan capaian ekonomi Kota Medan dinilai tak lepas dari langkah transformasi program dan digitalisasi, khususnya dalam penguatan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Penguatan Sektor UMKM: Pemerintah Kota Medan aktif menghidupkan ruang ekonomi warga melalui ajang rutin (Car Free Day, Car Free Night, bazar kuliner, MTQ, hingga APEKSI) serta penataan kawasan pedagang, seperti di Pasar Petisah.

Pertumbuhan Lapangan Kerja & Pajak: Menjamurnya usaha kuliner, kafe, dan ekspansi berbagai brand franchise nasional memperluas lapangan kerja sekaligus mendongkrak pendapatan pajak daerah.

Kinerja Transaksi Digital Tinggi: Dari total 3,2 juta pengguna aplikasi keuangan digital di Sumatera Utara dengan volume 144 juta transaksi, 90,5 persen di antaranya terkonsentrasi di Kota Medan.

Lonjakan Belanja Publik: Tingginya transaksi ekonomi yang menembus lebih dari Rp200 triliun didorong oleh konsumsi bahan pokok menjelang Iduladha dan persiapan tahun ajaran baru sekolah sepanjang Mei hingga Juli.

Meski optimisme pasar terjaga dengan pertumbuhan di atas 5 persen, Bakhtiar mengingatkan bahwa Kota Medan sangat bergantung pada pasokan dari daerah produsen. Saat ini, kenaikan harga bahan pokok seperti beras, daging ayam, dan ikan disebabkan oleh sejumlah faktor eksternal yakni Kerusakan Lahan Pertanian: Banjir di wilayah produsen seperti Aceh, Sumut, dan Sumatera Barat merusak persawahan.

Kendala Distribusi: Kelangkaan minyak solar memicu lonjakan biaya logistik dan Faktor Iklim & Pakan: Perubahan iklim menekan hasil tangkapan ikan, sementara kenaikan harga bahan baku pakan memicu lonjakan harga ayam.

Mengantisipasi hal tersebut, ia meminta Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Medan dan Provinsi Sumut bersinergi secara terstruktur untuk mengontrol pergerakan harga.

Bakhtiar menggarisbawahi bahwa inflasi tidak selalu mencerminkan kegagalan pemerintah. "Apabila inflasi dipicu oleh peningkatan permintaan (demand-pull inflation) yang kemudian diimbangi oleh produksi, hal tersebut justru akan membuka lapangan kerja baru dan berdampak positif bagi perekonomian jangka panjang," tegas Bakhtiar.

Editor : Jafar Sembiring

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network