MEDAN, iNewsMedan.id– Risiko kebakaran di permukiman padat Kota Medan dinilai tak cukup dihadapi dengan menambah armada dan mempercepat kedatangan petugas pemadam. Kesiapan warga hingga tingkat kelurahan dinilai menjadi bagian penting dalam mencegah dan menangani kebakaran.
Hal itu mengemuka dalam Seminar Nasional dan Forum Kolaborasi Pemangku Kepentingan yang digelar Universitas Sumatera Utara (USU) bersama Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro (FKM UNDIP) dan Pemerintah Kota Medan, Kamis (27/8/2026).
Forum yang berlangsung di Ruang DPF Fakultas Hukum USU tersebut membahas penerapan Rencana Induk Sistem Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (RISPKP) serta pemberdayaan masyarakat di kawasan permukiman padat dan kumuh.
Program tersebut menyasar tiga kelurahan, yakni Belawan II, Karang Berombak, dan Tegal Sari Mandala II. Ketiganya menghadapi sejumlah risiko, mulai dari kepadatan bangunan, akses kendaraan pemadam yang terbatas, instalasi listrik yang belum aman, minimnya sarana proteksi hingga keberadaan warga yang membutuhkan bantuan khusus saat evakuasi.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Medan, Wandro Abadi Agnellus Malau, mengatakan penanggulangan kebakaran harus mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk perempuan, anak-anak, lanjut usia, penyandang disabilitas dan masyarakat miskin.
"Damkarmat Kota Medan saat ini didukung enam UPT wilayah, 28 unit armada dan 239 personel. Sepanjang 2025, dari 251 kejadian kebakaran, sebanyak 244 kejadian atau sekitar 97 persen dapat direspons dalam waktu kurang dari 13 menit,"terang Wandro.
Editor : Ismail
Artikel Terkait
