Dalam kesempatan yang sama, Wakil Rektor I UIN Sumatera Utara, Prof Dr Azhari Akmal Tarigan, menilai pertemuan dua perayaan ini sebagai refleksi bahwa spiritualitas tidak berhenti pada ritual.
“Keinginan berbagi tidak harus menunggu kaya, tidak harus menunggu berhasil,” katanya.
Azhari menambahkan, puasa adalah proses menekan materialitas dan menguatkan spiritualitas. Ia bahkan mencontohkan Finlandia sebagai negara dengan tingkat kebahagiaan tinggi karena kuatnya rasa saling percaya di tengah masyarakat.
“Ukuran bahagia itu ketika kita tak lagi khawatir barang tertinggal karena yakin tak ada yang mengambil,” ujarnya.
Pertemuan Imlek dan Ramadan di Medan kali ini bukan hanya seremoni dua tradisi, tetapi panggung pesan sosial: empati tidak menunggu kesamaan identitas. Di tengah polarisasi yang kerap menguat, pesan itu terdengar lebih relevan.
Editor : Ismail
Artikel Terkait
