MEDAN, iNewsMedan.id– Di tengah pertemuan dua momentum besar keagamaan—Imlek 2577 Kongzili dan Ramadan 1447 Hijriah—Sofyan Tan melontarkan pesan yang tidak normatif. Ia tidak berbicara soal simbol toleransi, tetapi soal keberanian menolong tanpa bertanya identitas.
Pesan itu disampaikan dalam Open House Imlek dan Buka Puasa Bersama di Lapangan Basket Sekolah Sultan Iskandar Muda, Jalan Sunggal, Medan, Minggu (22/2).
Ketua Dewan Pembina Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM) sekaligus Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan itu menekankan, kemanusiaan harus berada di atas sekat agama, suku, dan ras.
Di hadapan keluarga besar YPSIM dan Universitas Satya Terra Bhinneka, Sofyan Tan mengisahkan seorang kakek pengumpul barang bekas yang hendak berbuka puasa bersama istrinya dengan membawa kurma. Namun di perjalanan, ia melihat seorang pemuda kelaparan dan menggigil di tepi selokan.
“Kakek itu berpikir, yang penting pemuda ini selamat. Soal tidak ada kurma di rumah, itu tidak penting,” ujar Sofyan Tan.
Kurma yang seharusnya menjadi menu berbuka bersama istrinya diberikan kepada orang yang tak dikenalnya. Tindakan sederhana itu, kata dia, justru memantik empati orang lain.
Seorang pria kaya yang kebetulan melintas dan menyaksikan kejadian tersebut mengikuti sang kakek hingga ke rumahnya. Ia menyerahkan makanan dan buah-buahan yang dibawanya untuk merayakan Imlek, bahkan menambahkan angpao.
“Apa yang bisa kita lihat? Hati yang bersih dan niat menolong itu mudah, tanpa harus bertanya agama, suku, atau ras orang yang dibantu,” tegasnya.
Menurut Sofyan Tan, pertemuan Imlek dan Ramadan bukan sekadar kebetulan kalender, tetapi momentum menguatkan nilai dasar bangsa: kemanusiaan. Ia mengingatkan seluruh elemen YPSIM agar konsisten memberi akses pendidikan bagi keluarga kurang mampu, tanpa diskriminasi.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Rektor I UIN Sumatera Utara, Prof Dr Azhari Akmal Tarigan, menilai pertemuan dua perayaan ini sebagai refleksi bahwa spiritualitas tidak berhenti pada ritual.
“Keinginan berbagi tidak harus menunggu kaya, tidak harus menunggu berhasil,” katanya.
Azhari menambahkan, puasa adalah proses menekan materialitas dan menguatkan spiritualitas. Ia bahkan mencontohkan Finlandia sebagai negara dengan tingkat kebahagiaan tinggi karena kuatnya rasa saling percaya di tengah masyarakat.
“Ukuran bahagia itu ketika kita tak lagi khawatir barang tertinggal karena yakin tak ada yang mengambil,” ujarnya.
Pertemuan Imlek dan Ramadan di Medan kali ini bukan hanya seremoni dua tradisi, tetapi panggung pesan sosial: empati tidak menunggu kesamaan identitas. Di tengah polarisasi yang kerap menguat, pesan itu terdengar lebih relevan.
Editor : Ismail
Artikel Terkait
