Melalui sinergi dengan Dekranasda, produk turunan kemenyan ini diproyeksikan mampu menembus pasar kosmetik dan wewangian global, memberikan nilai tambah yang signifikan bagi ekonomi lokal.
Lebih dari sekadar pusat ekonomi, bangunan ini adalah ruang pemulihan sosial atau self defense. Realitas pahit diungkapkan oleh Plt. Ketua MHA Simardangiang, Tampan Sitompul. Ia mencatat bahwa sekitar 80 persen lahan persawahan warga hancur akibat bencana alam pada akhir 2025.
Di tengah terjepitnya akses pangan, hutan adat dan kemenyan menjadi tumpuan harapan.
“Kami berharap pusat adat yang telah dibangun dapat menjadi ruang pelestarian nilai-nilai adat bagi generasi penerus,” ucap Tampan.
Pusat adat ini menjadi saksi bagaimana masyarakat merumuskan strategi bertahan hidup, menjadikan adat sebagai payung pelindung saat alam sedang tidak bersahabat.
Editor : Jafar Sembiring
Artikel Terkait
