Lima Bahasa Daerah di Sumut Terancam Punah, Sofyan Tan Singgung Minimnya Pembelajaran di Sekolah
Sofyan menekankan, bahasa daerah tidak cukup hanya dicatat dan didokumentasikan. Bahasa tersebut harus tetap digunakan dalam kehidupan sehari-hari serta diwariskan kepada generasi muda agar tidak kehilangan penuturnya.
Ia juga menyoroti pentingnya dukungan anggaran untuk program pelindungan dan revitalisasi bahasa, terutama bagi bahasa yang berada dalam kondisi terancam punah.
Selain menjaga identitas budaya, Sofyan melihat bahasa daerah memiliki potensi untuk mendukung pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di Sumatera Utara.
Ia mencontohkan kawasan Danau Toba yang memiliki kekayaan alam dan budaya. Namun, menurutnya, pengembangan pariwisata juga perlu ditunjang kemampuan masyarakat dalam memberikan pelayanan kepada wisatawan, termasuk melalui cara berkomunikasi yang baik.
Sofyan menilai, mempelajari bahasa dan budaya lain tidak berarti harus meninggalkan identitas sendiri. Sebaliknya, kemampuan tersebut dapat memperkaya cara berkomunikasi tanpa menghilangkan bahasa daerah asal.
“Jadi kalau orang Batak belajar bahasa Sunda, pulangnya enggak kehilangan bahasa Bataknya, tetapi logatnya menjadi lebih halus,” katanya.
Menurut Sofyan, kekayaan budaya Sumatera Utara juga dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi, mulai dari kuliner, musik, tarian hingga ulos yang kini diolah menjadi beragam produk fesyen.
“Yang kurang cuma satu aja, melayani. Kalau itu bagus, maka perfect di Sumatera Utara,” ujarnya, menekankan pentingnya kualitas pelayanan dalam mendukung potensi pariwisata daerah.
Sementara itu, Devi Luthfiah yang mewakili Kepala Bidang Fasilitasi dan Advokasi Bahasa dan Sastra Badan Bahasa mengatakan, kegiatan diseminasi tersebut bertujuan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pelindungan, revitalisasi, dan pewarisan bahasa serta sastra daerah.
Editor: Ismail