Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Sebungkus Tape dan Doa Tahajud yang Mengantar Hamzani ke Bangku Kuliah
Advertisement . Scroll to see content

Lima Bahasa Daerah di Sumut Terancam Punah, Sofyan Tan Singgung Minimnya Pembelajaran di Sekolah

Rabu, 14 Oktober 2026 | 16:42 WIB
  • author Ismail
Lima Bahasa Daerah di Sumut Terancam Punah, Sofyan Tan Singgung Minimnya Pembelajaran di Sekolah
Sofyan Tan memberikan cinderamata dalam kegiatan Diseminasi Pelindungan Bahasa dan Sastra Daerah di Medan, Rabu, 14 Oktober 2026. Foto: Ismail/iNewsMedan.id

MEDAN, iNewsMedan.id – Lima bahasa daerah di Sumatera Utara terancam punah dan membutuhkan perhatian serius. Anggota Komisi X DPR RI, Sofyan Tan, mengingatkan pentingnya revitalisasi bahasa daerah, terutama melalui pendidikan agar warisan budaya tersebut tidak hilang ditelan zaman.

Hal itu disampaikan Sofyan Tan dalam kegiatan Diseminasi Pelindungan Bahasa dan Sastra Daerah yang diselenggarakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa di Medan, Rabu, 14 Oktober 2026.

Politisi  dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PdIP) itu menyebutkan, Sumatera Utara memiliki sekitar 10 bahasa daerah yang mendapat pelindungan. Namun, lima bahasa daerah di antaranya terancam punah sehingga membutuhkan perhatian lebih besar.

Di antara bahasa dan dialek yang disinggung Sofyan adalah bahasa Melayu dengan dialek Panei, Storkam, Asahan dan Langkat, serta bahasa Siladang. Ia juga menyinggung keragaman dialek bahasa Batak, termasuk Angkola dan Toba, yang memiliki perbedaan dalam cara bertutur.

Menurutnya, keragaman bahasa tersebut merupakan bagian dari identitas masyarakat Sumatera Utara yang harus dijaga. Perbedaan bahasa dan dialek bukan alasan untuk menjauhkan masyarakat, melainkan kekayaan budaya yang dapat mempererat hubungan antarkelompok.

“Bahasa daerah itu bisa, bukan hanya sebagai bahasa yang sebagai hubungan antara satu dengan yang lain, tetapi juga bahasa itu bisa memperkuat hubungan antara satu suku dengan suku yang lain,” kata Sofyan.

Ia menilai, ancaman kepunahan bahasa daerah perlu disikapi melalui langkah konkret. Salah satunya dengan menghidupkan kembali pembelajaran bahasa daerah di sekolah, yang menurutnya kini semakin berkurang.

“Dulu di setiap sekolah ada bahasa daerah yang dipelajari. Kelihatan sekarang kurang, ya. Semakin kurang berarti juga berkaitan dengan gurunya yang kurang,” ujarnya.

Sofyan menekankan, bahasa daerah tidak cukup hanya dicatat dan didokumentasikan. Bahasa tersebut harus tetap digunakan dalam kehidupan sehari-hari serta diwariskan kepada generasi muda agar tidak kehilangan penuturnya.

Ia juga menyoroti pentingnya dukungan anggaran untuk program pelindungan dan revitalisasi bahasa, terutama bagi bahasa yang berada dalam kondisi terancam punah.

Selain menjaga identitas budaya, Sofyan melihat bahasa daerah memiliki potensi untuk mendukung pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di Sumatera Utara.

Ia mencontohkan kawasan Danau Toba yang memiliki kekayaan alam dan budaya. Namun, menurutnya, pengembangan pariwisata juga perlu ditunjang kemampuan masyarakat dalam memberikan pelayanan kepada wisatawan, termasuk melalui cara berkomunikasi yang baik.

Sofyan menilai, mempelajari bahasa dan budaya lain tidak berarti harus meninggalkan identitas sendiri. Sebaliknya, kemampuan tersebut dapat memperkaya cara berkomunikasi tanpa menghilangkan bahasa daerah asal.

“Jadi kalau orang Batak belajar bahasa Sunda, pulangnya enggak kehilangan bahasa Bataknya, tetapi logatnya menjadi lebih halus,” katanya.

Menurut Sofyan, kekayaan budaya Sumatera Utara juga dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi, mulai dari kuliner, musik, tarian hingga ulos yang kini diolah menjadi beragam produk fesyen.

“Yang kurang cuma satu aja, melayani. Kalau itu bagus, maka perfect di Sumatera Utara,” ujarnya, menekankan pentingnya kualitas pelayanan dalam mendukung potensi pariwisata daerah.

Sementara itu, Devi Luthfiah yang mewakili Kepala Bidang Fasilitasi dan Advokasi Bahasa dan Sastra Badan Bahasa mengatakan, kegiatan diseminasi tersebut bertujuan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pelindungan, revitalisasi, dan pewarisan bahasa serta sastra daerah.

Kegiatan itu juga diarahkan untuk memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat, legislatif, pemerintah daerah, komunitas, dan masyarakat.

Sebanyak 100 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari berbagai unsur, antara lain dinas pendidikan dan kebudayaan, kepala sekolah, guru, pegiat literasi, komunitas bahasa dan sastra, tokoh budaya, mahasiswa, serta media massa.

Devi berharap kegiatan tersebut dapat memperluas keterlibatan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan bahasa dan sastra daerah, sehingga kekayaan bahasa di Sumatera Utara tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.

Editor: Ismail

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut