MEDAN, iNewsMedan.id - Di tengah dinamika kehidupan yang penuh dengan ujian, mengeluh sering kali menjadi respons pertama yang refleks keluar dari bibir. Beban kerja yang menumpuk, rasa lelah yang menggerogoti tubuh, hingga rasa sakit fisik yang melintas tak jarang langsung kita umbar kepada siapa saja yang mau mendengar. Namun, pernahkah kita sejenak merenung, sejauh mana keluhan itu benar-benar mampu meringankan beban yang sedang kita pikul?
Sebuah kisah klasik nan sarat hikmah dari tokoh tabi'in terkemuka, Al-Ahnaf bin Qais, memberikan pelajaran yang sangat mendalam tentang arti ketabahan dan menjaga kehormatan diri di hadapan ujian.
Kisah ini diriwayatkan oleh Al-Mughirah. Suatu hari, keponakan Al-Ahnaf bin Qais datang mengadu dan mengeluhkan rasa sakit pada giginya yang tak kunjung reda. Sang keponakan berharap mendapatkan simpati atau curahan perhatian dari pamannya. Namun, Al-Ahnaf bin Qais meresponsnya dengan sebuah ucapan yang begitu menohok sekaligus menyejukkan hati.
Beliau berkata:
"Sudah empat puluh tahun lamanya aku tidak bisa melihat, dan aku tidak pernah mengeluhkannya kepada seorang pun."
Jawaban Al-Ahnaf bukanlah bentuk ketidakpedulian seorang paman kepada keponakannya, melainkan sebuah pengajaran luhur tentang cara bersikap di hadapan Takdir Allah. Kehilangan penglihatan—sebuah nikmat yang begitu besar—selama empat dekade tentu jauh lebih berat daripada rasa sakit gigi yang bersifat sementara. Kendati demikian, beliau memilih untuk menyimpan ujian berat itu rapat-rapat antara dirinya dengan Sang Pencipta, tanpa perlu mengumbarnya kepada sesama manusia.
Mengapa kita perlu belajar untuk mengurangi—bahkan menghentikan—kebiasaan mengeluh?
Mengeluh Tidak Menghilangkan Rasa Sakit
Saat kita mengeluhkan beban hidup kepada manusia, beban itu tidak serta-merta berkurang. Sebaliknya, terus-menerus mengeluhkan keadaan justru membuat fokus kita tertuju pada penderitaan, yang pada akhirnya memperberat rasa sakit di dalam jiwa.
Manusia Hanya Bisa Kasihan, Allah Yang Maha Menyembuhkan
Mengadu kepada sesama hamba kerap kali hanya mendatangkan rasa iba yang terbatas, atau bahkan respons yang tak memberi solusi. Namun, mengadukan segala kesusahan hanya kepada Allah adalah bentuk penghambaan yang murni, yang mendatangkan ketenangan dan pertolongan hakiki.
Mendidik Hati untuk Selalu Bersyukur
Di balik setiap ujian yang mendatangi kita, selalu ada nikmat lain yang tak terhitung jumlahnya yang masih Allah sisakan. Ketika kita berfokus pada apa yang hilang atau sakit, kita kerap melupakan ribuan nikmat lain yang masih berfungsi dengan baik.
Umat Islam belajarlah untuk tidak mengeluh bukan berarti memendam emosi hingga merusak diri, melainkan melatih jiwa agar memiliki ketahanan (resilience) dan kematangan iman. Ketika ujian menyapa, letakkanlah aduan itu di atas sajadah, dalam sujud-sujud malam yang sunyi.
Sebagaimana teladan Al-Ahnaf bin Qais, mari latih hati untuk senantiasa berlapang dada. Jadikanlah sabar sebagai benteng dan syukuri setiap helai napas yang masih Allah berikan. Karena sungguh, jiwa yang tenang adalah jiwa yang mampu tersenyum dan bertahan, meski tak ada seorang pun yang tahu betapa berat ujian yang sedang ia pendar di dalam dada.
Editor : Vitrianda Hilba Siregar
Artikel Terkait
