Mengurai Larangan Qil wa Qal dan Pentingnya Budaya Tabayyun

Vitrianda Hilba
Ketenangan jiwa berawal dari keberanian menutup telinga dari desas-desus. Foto: Freepik

MEDAN, iNewsMedan.id - Ketenangan jiwa berawal dari keberanian menutup telinga dari desas-desus. Syaikh Faishal Hasyidi pernah menekankan bahwa jalan menuju hidup tenteram adalah dengan mengabaikan tiga ungkapan yang sering memicu keraguan: "aku dengar", "mereka bilang", dan "orang-orang bilang".

Prinsip ini berakar kuat pada ajaran Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam (SAW). Beliau memberikan peringatan tegas dalam hadis riwayat Muslim bahwa seseorang sudah cukup dianggap berdusta jika ia terbiasa menceritakan setiap hal yang didengarnya.

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa hadis tersebut merupakan larangan keras menyebarkan perkataan tanpa proses tabayyun atau verifikasi kebenaran. Mengingat informasi yang beredar di masyarakat bercampur antara fakta dan kebohongan, kebiasaan menyampaikan semua hal tanpa disaring secara otomatis akan menjerumuskan seseorang ke dalam kedustaan.

Prinsip serupa ditegaskan oleh Imam Malik. Beliau mengingatkan bahwa keselamatan seseorang akan terancam dan kehormatannya sebagai teladan akan runtuh jika ia selalu meneruskan setiap kabar yang mampir di telinganya.

Selain menyaring informasi, Islam melarang keras perilaku qila wa qala atau gemar mengonsumsi dan menyebarkan gosip. Dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW menyebutkan tiga perkara yang dibenci Allah, yaitu desas-desus yang tidak jelas, menyia-nyiakan harta, dan terlalu banyak bertanya atau meminta hal yang tak bermanfaat.

Para ulama seperti Al-Baghawi dan Al-Qurtubi memperjelas bahwa larangan ini mencakup kebiasaan mencampuri urusan pribadi orang lain serta menukil perkataan tanpa bukti sahih. Kebiasaan tersebut menjadi pintu masuk utama timbulnya fitnah, ghibah, dan adu domba di tengah masyarakat.

Alquran secara tegas membimbing umat beriman untuk menjaga diri dari prasangka dan kabar burung. Allah Ta'ala berfirman dalam Surah Al Isra ayat 36 agar manusia tidak mengikuti sesuatu tanpa dasar pengetahuan yang pasti, sebab pendengaran, penglihatan, dan hati nurani kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Penegasan ini diperkuat melalui Surah Qaf ayat 18 yang mengingatkan bahwa tidak ada satu patah kata pun yang terucap melainkan dicatat oleh malaikat pengawas yang selalu hadir.

Menjauhkan diri dari ucapan berlandaskan ketidakpastian serta memfokuskan energi pada hal-hal yang bermanfaat merupakan kunci utama meraih kedamaian hati sekaligus keselamatan di dunia dan akhirat.

Editor : Vitrianda Hilba Siregar

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network