MEDAN, iNewsMedan.id- Masalah kulit seperti eksim kerap dianggap sepele karena sering datang dan pergi. Padahal, kondisi yang dalam dunia medis dikenal sebagai dermatitis atopi ini bisa berdampak besar pada kenyamanan dan kualitas hidup, terutama jika tidak ditangani dengan tepat.
Eksim merupakan peradangan kulit yang dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari reaksi alergi hingga gangguan pada lapisan pelindung kulit atau skin barrier. Gejalanya pun beragam, seperti kulit kemerahan, kering, terasa sangat gatal, mengelupas, hingga sensasi panas atau terbakar. Pada kondisi tertentu, eksim juga dapat memunculkan lepuhan kecil berisi cairan yang berisiko membuat kulit menjadi pecah-pecah.
Eksim bisa dialami oleh siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa, dan umumnya bersifat kronis serta mudah kambuh. Faktor genetik dengan riwayat alergi, asma atau rhinitis alergi, paparan bakteri dan jamur, hingga perubahan cuaca, udara kering, polusi, serta iritan tertentu turut berperan dalam memicu kondisi ini. Ketika skin barrier tidak terjaga, kulit menjadi lebih sensitif dan rentan mengalami peradangan.
Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski), M Yulianto Listiawan, pada 2022 juga menyebutkan bahwa sebagian orang mengalami penyakit kulit degeneratif, yakni penurunan fungsi kulit seiring waktu.
Eksim Basah dan Eksim Kering, Apa Bedanya?
Secara umum, eksim terbagi menjadi dua jenis, yaitu eksim basah dan eksim kering, yang masing-masing membutuhkan penanganan berbeda.
dr. Joice Sonya Gani Panjaitan, Sp.DVE, FINSDV, Dokter Spesialis Dermatologi dan Venereologi di ERHA Central Medan, menjelaskan bahwa eksim basah biasanya muncul segera setelah kulit terpapar bahan yang dicurigai sebagai alergen. Kondisi ini ditandai dengan kulit yang tampak basah atau berair, mengeluarkan cairan bening, terasa sangat gatal, serta lebih mudah terinfeksi.
“Eksim basah membutuhkan penanganan ekstra karena risiko infeksinya lebih besar,” jelas dr. Joice.
Editor : Ismail
Artikel Terkait
