RSUD Dr Pirngadi Mulai Layani Kateterisasi Jantung
MEDAN, iNewsMedan.id – RSUD Dr Pirngadi Medan mulai memberikan pelayanan kateterisasi jantung atau Catheterization Laboratory (Cath Lab), Jumat (6/11/2026). Pelayanan ini ditandai dengan pelaksanaan tindakan percutaneous coronary intervention (PCI) atau intervensi koroner perkutan untuk pertama kalinya di rumah sakit milik Pemko Medan tersebut.
Direktur Pelayanan Klinis Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, dr Obrin Parulian, mengatakan pengoperasian Cath Lab di RSUD Dr Pirngadi merupakan bagian dari upaya pemerataan pelayanan penyakit jantung dan stroke agar tidak terpusat di rumah sakit rujukan utama.
"Kementerian Kesehatan mengembangkan jejaring pengampuan pelayanan. Tujuannya agar kasus-kasus prioritas yang dihadapi masyarakat itu sampai ke level madya, di 514 kabupaten/kota, bisa diselesaikan. Termasuk serangan jantung dan serangan stroke, tidak boleh lagi semuanya menumpuk di Adam Malik," ujarnya saat menyaksikan tindakan perdana tersebut.
Menurut Obrin, keberadaan fasilitas kateterisasi jantung memungkinkan pasien mendapatkan penanganan lebih cepat tanpa harus dirujuk ke rumah sakit lain. Keterlambatan penanganan akibat jarak dan keterbatasan fasilitas dapat meningkatkan risiko bagi pasien serangan jantung.
Ia mencontohkan RSUD Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, yang sehari sebelumnya juga melaksanakan tindakan intervensi jantung perdana. Dalam tindakan tersebut, seorang pasien serangan jantung menjalani kateterisasi dan pemasangan dua stent atau ring jantung.
"Kalau seandainya di Tarutung tidak tersedia, berarti paling dekat itu Siantar. Kita tahu berapa lama dari Tarutung sampai ke Siantar. Kalau kapasitasnya penuh, dokternya tidak ada, kemudian harus dikirim ke Medan, sampai di tempat mungkin sudah terlambat," katanya.
Obrin menyebutkan Kemenkes telah memberikan dukungan peralatan medis, sarana dan prasarana, serta penguatan sumber daya manusia untuk mengoperasikan layanan tersebut.
Meski demikian, ia mengatakan kerja sama dengan BPJS Kesehatan masih perlu didorong agar pelayanan Cath Lab di RSUD Dr Pirngadi dapat dijamin bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
"Kami berharap seluruh layanan Cath Lab yang sudah terpasang ini segera didorong untuk kerja sama. Mohon kepala cabang BPJS Kesehatan agar informasi ini disampaikan ke pusat bahwa pelayanan sudah terselenggara, sehingga pelayanan ini bisa dijamin BPJS," ujarnya.
Selain di Medan, Kemenkes juga mendorong pemerataan fasilitas intervensi jantung di daerah lain di Sumatera Utara. Fasilitas kateterisasi di Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, disebut telah terpasang dan memperoleh izin BPJS Kesehatan. Tindakan perdana di rumah sakit tersebut direncanakan pada 22 Desember 2026.
Obrin juga mengingatkan pentingnya pencegahan penyakit jantung dan stroke melalui pengendalian hipertensi, diabetes, serta kolesterol. Ia meminta hasil pemeriksaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) ditindaklanjuti dengan pengobatan di puskesmas.
"Saya berharap hasil-hasil CKG ini ditindaklanjuti. Kalau hipertensi diberikan obatnya, kalau diabetes juga ditangani. Jangan sampai orang yang sudah diketahui memiliki faktor risiko justru dibiarkan sampai akhirnya masuk rumah sakit," katanya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Medan Zakiyuddin Harahap mengatakan penambahan fasilitas kesehatan harus diikuti peningkatan kualitas pelayanan rumah sakit. Menurutnya, masyarakat masih kerap mengeluhkan sulitnya memperoleh informasi mengenai ketersediaan kamar dan dokter.
"Setiap hari masyarakat menelepon dan mengirim WhatsApp, selalu bertanya apakah ada kamar dan apakah ada dokter. Ini yang harus kita benahi. Masyarakat yang sakit harus mendapatkan pelayanan, tidak boleh dibedakan," ujarnya.
Zakiyuddin juga meminta pembenahan fasilitas RSUD Dr Pirngadi dilakukan berdasarkan perencanaan yang matang, termasuk memastikan ketersediaan peralatan medis sebelum pembangunan atau renovasi selesai.
Plt Direktur RSUD Dr Pirngadi Medan, dr Mardohar, mengatakan pelaksanaan PCI perdana tersebut melalui sejumlah tahapan, mulai dari persiapan pasien, pelaksanaan tindakan hingga evaluasi awal.
Ia menyebutkan pelayanan intervensi jantung membutuhkan kerja sama berbagai tenaga kesehatan, termasuk dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, perawat, tenaga radiologi, farmasi, serta laboratorium.
Mardohar mengakui pihaknya masih membutuhkan pendampingan klinis, peningkatan kompetensi tenaga medis, dan evaluasi untuk mengembangkan pelayanan tersebut secara mandiri dan berkelanjutan.
Editor: Ismail