Jualan Kerupuk dan Cuci Piring, Nirma Tak Kuasa Menahan Tangis Anaknya Lolos Kuliah PTN
Berbagai kisah tersebut menggambarkan beratnya perjuangan keluarga berpenghasilan rendah untuk menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi. Bagi mereka, persoalan biaya kerap menjadi penghalang terbesar, bahkan ketika anak memiliki kemampuan dan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan.
Melalui Rumah Aspirasi dr Sofyan Tan, bantuan KIP Kuliah jalur aspirasi menjangkau mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi negeri, di antaranya USU, Unimed, Polmed, kampus di Aceh, Universitas Jember, Universitas Udayana di Bali, serta sejumlah PTN di Pulau Jawa.
Mendengar cerita para orang tua, Sofyan Tan mengingatkan mahasiswa penerima bantuan agar tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Menurutnya, pendidikan dapat menjadi jalan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk memperbaiki kehidupan.
“Manfaatkanlah kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Pendidikan adalah salah satu jalan paling ampuh untuk mengubah nasib keluarga. Jangan pernah patah semangat, kejarlah cita-citamu setinggi langit, karena negara harus hadir untuk memastikan anak-anak kurang mampu berhak memiliki masa depan yang cerah,” pesannya.
Bagi Nirma yang berjualan kerupuk dan mencuci piring, Anita dengan gaji guru honorer, serta Evi dan Santi yang berjuang di tengah keterbatasan ekonomi, keberhasilan anak menembus PTN menjadi lebih dari sekadar pencapaian akademik.
Mereka mungkin tidak memiliki harta untuk diwarisan. Namun, pendidikan menjadi harapan agar anak-anak mereka kelak memiliki kehidupan yang lebih baik.
Sebab, di balik seorang anak yang berhasil duduk di bangku perguruan tinggi, ada perjuangan orang tua yang sering kali harus mengorbankan banyak hal agar mimpi itu tidak berhenti hanya karena keterbatasan biaya.
Editor: Ismail