Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Terganjal Desil, Mimpi Anak Buruh dan Pengemudi Ojol untuk Kuliah Nyaris Kandas
Advertisement . Scroll to see content

Jualan Kerupuk dan Cuci Piring, Nirma Tak Kuasa Menahan Tangis Anaknya Lolos Kuliah PTN

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 18:51 WIB
  • author Ismail
Jualan Kerupuk dan Cuci Piring, Nirma Tak Kuasa Menahan Tangis Anaknya Lolos Kuliah PTN
Anggota Komisi X DPR RI dr Sofyan Tan bertemu orang tua dan mahasiswa penerima KIP Kuliah jalur aspirasi dalam kegiatan serap aspirasi di Kampus Universitas Satya Terra Bhinneka, Medan, Sabtu (31 Oktober 2026). Foto: Istimewa

MEDAN, iNewsMedan.id-  “Saya cuma jual kerupuk dan cuci piring, Pak!” Kalimat itu meluncur dari mulut Nirma Br. Ginting dengan suara bergetar. Tak kuasa menahan haru, warga Simalingkar B, Kecamatan Pancur Batu, itu menangis saat menceritakan perjuangannya membesarkan anak hingga akhirnya bisa kuliah di perguruan tinggi negeri (PTN).

Suaminya bekerja sebagai sopir. Sementara Nirma harus berjualan kerupuk keliling dan mencuci piring demi membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Dengan penghasilan yang terbatas, membiayai anak sampai perguruan tinggi selama ini terasa seperti impian yang sulit diwujudkan.

Namun, harapan itu akhirnya terbuka setelah anaknya mendapatkan bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah melalui jalur aspirasi yang diperjuangkan Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, dr Sofyan Tan.

Kisah Nirma terungkap dalam kegiatan Serap Aspirasi Masyarakat bersama dr Sofyan Tan di Kampus Universitas Satya Terra Bhinneka, Jalan PDAM Tirtanadi, Medan Sunggal, Sabtu (31 Oktober 2026). Kegiatan tersebut dihadiri lebih dari 100 orang tua dan mahasiswa penerima KIP Kuliah jalur aspirasi yang berhasil menembus berbagai PTN di Indonesia.

Bukan hanya Nirma, sejumlah orang tua lainnya juga menceritakan perjuangan serupa. Di balik keberhasilan anak mereka mendapatkan bangku kuliah, tersimpan kisah tentang penghasilan minim, pekerjaan berat, hingga perjuangan membesarkan anak seorang diri.

Anita Br. Surbakti, misalnya. Guru honorer asal Simalingkar itu hanya menerima gaji sekitar Rp1 juta per bulan. Dengan penghasilan tersebut, membiayai pendidikan anak hingga perguruan tinggi bukan perkara mudah.

Meski demikian, kesempatan mendapatkan KIP Kuliah membuat anaknya bisa melanjutkan pendidikan di Politeknik Negeri Medan (Polmed).

“Saya adalah guru honorer, Pak, dengan gaji satu juta rupiah. Saya tak menyangka anak saya bisa kuliah dengan bantuan Bapak. Terima kasih, Ibu Lisna, Pak Tamba, dan Pak Sofyan Tan,” ungkapnya dengan suara bergetar.

Kisah lebih berat dialami Evi Purba, warga Namorambe, Kabupaten Deli Serdang. Ia harus membesarkan kedua anaknya seorang diri setelah keluarganya dilanda persoalan narkoba.

Ketika anaknya menghadapi kendala administrasi yang mengancam kelanjutan kuliah, Evi kembali dihadapkan pada persoalan biaya. Melalui bantuan Rumah Aspirasi dr Sofyan Tan, anaknya akhirnya bisa melanjutkan pendidikan di Fakultas Pendidikan Teknik Mesin, Universitas Negeri Medan (Unimed).

“Suami saya sudah tiada karena narkoba, saya hidup bersama kedua anak saya. Berkat bantuan Rumah Aspirasi dan dr Sofyan Tan, anak saya bisa terus kuliah tanpa biaya sepeser pun,” tuturnya.

Perjuangan tak kalah berat dijalani Santi Dewi, buruh harian lepas asal Simalingkar B. Dengan penghasilan di bawah upah minimum, ia harus mengatur keuangan keluarga agar kebutuhan sehari-hari dan pendidikan anak tetap terpenuhi.

Kini, anaknya mendapat kesempatan kuliah di jurusan Teknik Mesin Universitas Sumatera Utara (USU) melalui KIP Kuliah jalur aspirasi.

Sementara itu, Sugiarti, salah seorang ibu mahasiswa USU, juga menyampaikan rasa syukur atas bantuan pendidikan yang diterima anaknya.

Berbagai kisah tersebut menggambarkan beratnya perjuangan keluarga berpenghasilan rendah untuk menyekolahkan anak hingga perguruan tinggi. Bagi mereka, persoalan biaya kerap menjadi penghalang terbesar, bahkan ketika anak memiliki kemampuan dan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan.

Melalui Rumah Aspirasi dr Sofyan Tan, bantuan KIP Kuliah jalur aspirasi menjangkau mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi negeri, di antaranya USU, Unimed, Polmed, kampus di Aceh, Universitas Jember, Universitas Udayana di Bali, serta sejumlah PTN di Pulau Jawa.

Mendengar cerita para orang tua, Sofyan Tan mengingatkan mahasiswa penerima bantuan agar tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Menurutnya, pendidikan dapat menjadi jalan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk memperbaiki kehidupan.

“Manfaatkanlah kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Pendidikan adalah salah satu jalan paling ampuh untuk mengubah nasib keluarga. Jangan pernah patah semangat, kejarlah cita-citamu setinggi langit, karena negara harus hadir untuk memastikan anak-anak kurang mampu berhak memiliki masa depan yang cerah,” pesannya.

Bagi Nirma yang berjualan kerupuk dan mencuci piring, Anita dengan gaji guru honorer, serta Evi dan Santi yang berjuang di tengah keterbatasan ekonomi, keberhasilan anak menembus PTN menjadi lebih dari sekadar pencapaian akademik.

Mereka mungkin tidak memiliki harta untuk diwarisan. Namun, pendidikan menjadi harapan agar anak-anak mereka kelak memiliki kehidupan yang lebih baik.

Sebab, di balik seorang anak yang berhasil duduk di bangku perguruan tinggi, ada perjuangan orang tua yang sering kali harus mengorbankan banyak hal agar mimpi itu tidak berhenti hanya karena keterbatasan biaya.

Editor: Ismail

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut