Terganjal Desil, Mimpi Anak Buruh dan Pengemudi Ojol untuk Kuliah Nyaris Kandas
MEDAN, iNewsMedan.id - Suasana haru seketika memecah keheningan di Kampus Universitas Satya Terra (ST) Bhinneka, Jalan PDAM Tirtanadi, Kecamatan Medan Sunggal, Medan, pada Senin (26/10). Ratusan orangtua mahasiswa tak kuasa menahan linangan air mata kebahagiaan saat bertemu langsung dengan Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan dr Sofyan Tan.
Di balik senyum bangga mereka saat melihat anak-anaknya resmi menjadi mahasiswa perguruan tinggi, tersimpan sebuah kisah perjuangan yang menguras air mata dan emosi. Bagaimana tidak, sebagian besar dari orangtua yang hadir berprofesi sebagai buruh harian lepas, pengemudi ojek online (ojol), hingga penjual makanan keliling. Mereka adalah potret masyarakat kecil yang berjuang setengah mati demi menyambung hidup. Namun, mimpi mulia mereka untuk melihat anak menuntut ilmu di bangku kuliah sempat hampir kandas total akibat satu persoalan administratif yang pelik: terdaftar di desil tinggi.
Secara data di atas kertas, status sosial ekonomi keluarga mereka dinilai berada di desil yang tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Padahal, kenyataan di lapangan berkata lain. Kehidupan sehari-hari mereka dipenuhi keterbatasan yang nyata.
“Awalnya anak saya, Rizki Ramadan, tidak dinyatakan lulus karena desil. Betul kata Pak Sofyan Tan, dan saya baru pertama kali bertemu dengan beliau. Alhamdulillah, puji syukur, anak saya diperjuangkan oleh Rumah Aspirasi untuk turun desil, sehingga anak saya bisa kuliah di tempat yang semegah ini,” ungkap Ibu dari Rizki Ramadan dengan suara bergetar menahan tangis haru.
Kisah senada juga diungkapkan oleh para orangtua lainnya yang merasakan keputusasaan serupa sebelum akhirnya mendapatkan uluran tangan. Bapak Barus, seorang warga Ngumban Surbakti yang sehari-hari bekerja serabutan, turut membagikan kisahnya. Kendala desil ini sempat membuat keluarganya mondar-mandir mengurus perbaikan data ke BPS hingga memindahkan kartu keluarga, namun berulang kali menemui jalan buntu.
Begitu pula yang dirasakan oleh Ibu Lisnaria Simarmata, seorang ibu rumah tangga asal Mabar, Medan Deli yang anak perempuannya, Juwita Simarmata, sempat terancam gagal kuliah karena persoalan desil sebelum akhirnya diperjuangkan melalui Tim Rumah Aspirasi dr Sofyan Tan.
Beruntung, kegigihan dan kepedulian mendalam dari Sofyan Tan bersama Tim Rumah Aspirasi hadir menjadi jembatan penyelamat. Melalui koordinasi yang gigih dan berkelanjutan dengan pihak Badan Pusat Statistik (BPS), data desil yang tidak sesuai dengan kondisi riil ekonomi keluarga tersebut akhirnya berhasil diturunkan. Anak-anak dari keluarga pemulung, buruh, dan ojol ini pun akhirnya dapat mengakses KIP Kuliah.
“Sebelumnya saya hampir putus asa dan berharapan karena desil ini, Pak. Alhamdulillah, setelah lama menunggu kemudian ada pengumuman bahwa anak saya lulus karena desilnya sudah turun. Terima kasih banyak kepada Bapak Sofyan Tan yang telah menolong kami,” ucap Ibu Lisnaria Simarmata dengan penuh rasa syukur.
Editor: Ismail