Tuwu Nukhada Mengangkat Kembali Jejak Tenun Leluhur Nias
Ia menegaskan, upaya pelestarian tidak berarti menutup diri terhadap perkembangan zaman. Menurutnya, teknologi dan kebutuhan masyarakat masa kini harus menjadi pertimbangan dalam mengembangkan produk budaya.
“Kita sudah melihat teknologi, kita sudah melihat dengan kecanggihan yang ada. Akhirnya kami sepakat kita tidak boleh mengesampingkan namanya teknologi atau perkembangan zaman,” katanya.
Karena itu, Tuwu Nukhada mengombinasikan bahan baku yang digunakan dalam tradisi tenun Sumatera Utara dengan pengembangan motif yang terinspirasi dari budaya Nias.
“Kita masih serumpun dengan Sumatera Utara, satu rumpun, makanya kami memakai bahan baku yang biasa dipakai oleh tenun mereka,” ujarnya.
Untuk warna, Raminalai mengangkat merah, kuning, dan hitam yang dikenal dalam pakaian adat Nias. Ia juga menyebut Nias Selatan sebagai wilayah penting dalam sejarah peradaban masyarakat Nias, yang antara lain ditandai dengan keberadaan peninggalan megalitik.
Meski telah mengembangkan kain tenun premium, Raminalai mengakui upaya menghidupkan kembali keterampilan menenun di Nias masih menghadapi kendala. Saat ini, produksi Tuwu Nukhada masih menggunakan kombinasi tenaga penenun karena keterbatasan sumber daya manusia dan bahan baku di daerah tersebut.
Untuk mengatasi persoalan itu, ia tengah menggagas program pembinaan penenun di Nias. Sebanyak 20 set alat tenun telah dikirimkan sebagai bagian dari persiapan program tersebut.
“Alat tenun sudah saya kirim, ada 20 set. Kemarin saya sempat pulang, cuma saya terlanjur sakit, saya balik lagi, padahal saya untuk melatih mereka itu penenunnya saya sudah bawa,” ungkapnya.
Menurut Raminalai, tantangan berikutnya adalah membangun pemahaman masyarakat mengenai sejarah tenun Nias. Ia mengaku masih menjumpai anggapan bahwa nenek moyang masyarakat Nias tidak memiliki tradisi kain tenun seperti yang sedang dikembangkannya.
“Itu tantangan bagi saya, karena literasinya masih kurang. Jadi banyak yang beranggapan, ‘Loh, ini nenek moyang kita enggak ada kain begini’,” katanya.
Ia menegaskan, kain yang dikembangkannya berangkat dari upaya mengangkat kembali budaya menenun dan motif Nias, dengan menyesuaikan bahan serta teknik produksi terhadap kondisi sekarang.
Di sisi pemasaran, Raminalai mengatakan masih banyak masyarakat Nias yang belum mengetahui keberadaan Tuwu Nukhada. Hal itu tidak hanya terjadi di daerah asalnya, tetapi juga pada masyarakat Nias yang tinggal di luar daerah.
“Kalau bagi orang Nias yang langsung tahu kami itu, banyak sih yang tertarik. Tapi struggle-nya kami, karena kami tidak tinggal di Nias, banyak orang Nias sendiri enggak tahu, belum tahu, kami sudah ada kain tenun sekarang,” ujarnya.
Editor: Ismail