Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Sapa Pengendara di Jalan, Wakapolda Sumut Serukan Kesadaran Operasi Patuh Toba 2026
Advertisement . Scroll to see content

Tuwu Nukhada Mengangkat Kembali Jejak Tenun Leluhur Nias

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:39 WIB
  • author Ismail
Tuwu Nukhada Mengangkat Kembali Jejak Tenun Leluhur Nias
Pemilik Tuwu Nukhada, Raminalai Dakhi, menjelaskan motif kain tenun khas Nias kepada konsumen yang berkunjung ke galeri. Foto: Istimewa

Bersama anak-anaknya, Raminalai kemudian menelusuri motif-motif Nias, termasuk yang ditemukan pada rumah adat dan ukiran artefak. Penelitian itu mengantarkannya pada temuan bahwa masyarakat Nias ternyata memiliki tradisi menenun yang telah lama ditinggalkan.

Dalam bahasa Nias, tradisi tersebut disebut fanoso. Namun, berdasarkan penelusuran yang dilakukannya, tradisi itu tidak lagi berkembang seperti dahulu.

“Kami menemukan ternyata budaya menenun nenek moyang kami itu atau fanoso, bahasa Niasnya, sudah punah. Karena sudah itu, kami hanya bisa mendapatkan alat tenunnya dipasang di museum, dipajang hanya sekadar pajangan doang,” kata Raminalai.

Temuan tersebut membuatnya semakin tertarik menggali sejarah kain leluhur. Ia mempertanyakan mengapa kain tenun lama sulit ditemukan, padahal masyarakat Nias memiliki tradisi menenun.

“Berangkat dari situ, kenapa sih kami tidak menemukan ini jejak kain nenek moyang kami?” ujarnya.

Dari penelitian lanjutan, Raminalai mengetahui bahwa bahan dasar tenun yang digunakan leluhur Nias pada masa lalu berasal dari serat tanaman bernama ladari, yang disebutnya sejenis anggrek hutan.

Menurut dia, serat tersebut dapat terurai seiring waktu. Hal itu menjadi salah satu penjelasan yang diperolehnya mengenai sulitnya menemukan kain peninggalan leluhur dalam kondisi utuh.

“Setelah kami melakukan penelitian mendalam, akhirnya kami mendapatkan jawabannya,” ujarnya.

Proses penelitian dan pengembangan Tuwu Nukhada berlangsung selama beberapa tahun, termasuk melalui berbagai percobaan untuk menemukan bentuk kain yang sesuai. Raminalai mengatakan, ia membutuhkan waktu panjang sebelum akhirnya dapat memperkenalkan produk tersebut kepada pasar.

Dalam pengembangan desain, ia memilih mengangkat motif yang ditemukan pada rumah adat dan ukiran Nias. Langkah itu dilakukan karena kain yang ditelusurinya dari tradisi lama cenderung polos, sementara motif-motif budaya masih dapat dijumpai pada peninggalan lainnya.

“Kalau untuk di kainnya sendiri itu polosan. Nah, kami berangkat dari situ, kalau kami lestarikan, kami angkat kembali yang memang cikal bakal kain nenek moyang kami itu tidak relevan dengan zaman sekarang,” jelasnya.

Editor: Ismail

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut