Inovasi Akademisi USU Bawa Aksara Batak ke Sistem Komunikasi Digital Dunia
Pauzi menjelaskan, LGR merupakan seperangkat aturan yang menentukan karakter, kombinasi karakter, dan ketentuan teknis dalam pembentukan label nama domain menggunakan aksara tertentu. Dalam pengembangan Aksara Batak, aturan tersebut perlu memperhatikan kesesuaian karakter Unicode, struktur penulisan, serta kekhasan sistem aksara tradisional Batak.
"Dengan adanya standardisasi tersebut, Aksara Batak diharapkan tidak hanya digunakan dalam dokumentasi naskah kuno, pendidikan, dan penelitian kebahasaan, tetapi juga dapat dimanfaatkan dalam teknologi internet modern," sebut Pauzi.
Dalam rangkaian ICANN87, PANDI bersama para ahli aksara Nusantara mengikuti sejumlah agenda strategis, antara lain pertemuan teknis dengan ICANN pada 17–18 Oktober, pembahasan Universal Acceptance pada 19 Oktober, serta sesi Internationalized Domain Name pada 20 Oktober 2026.
Pertemuan tersebut membahas pengembangan Second-Level Domain (SLD) untuk Aksara Sunda, Batak, dan Bugis, serta perkembangan implementasi aksara lokal dalam sistem internet global. Rangkaian ICANN87 juga mengagendakan peluncuran SLD Aksara Bali, Jawa, dan Pegon, sekaligus penyampaian perkembangan pengembangan domain untuk aksara Nusantara lainnya, termasuk Aksara Batak.
Kehadiran dua akademisi USU dalam forum internasional ini dinilai penting karena pengembangan domain berbasis aksara tradisional membutuhkan kolaborasi antara keahlian teknologi informasi dan kajian linguistik. Dari sisi teknologi, keterlibatan Fasilkom-TI USU berkaitan dengan sistem pengodean karakter, keamanan, dan kompatibilitas nama domain.
Editor: Jafar Sembiring