Inovasi Akademisi USU Bawa Aksara Batak ke Sistem Komunikasi Digital Dunia
Sementara dari sisi kebahasaan, Pauzi mengungkapkan bahwa diperlukan kajian terhadap struktur, kaidah penulisan, serta variasi karakter Aksara Batak. Keterlibatan Program Studi Sastra Batak FIB USU memperlihatkan bahwa pelestarian bahasa dan aksara daerah dapat dilakukan melalui pengembangan teknologi digital, bukan semata-mata lewat penelitian dan dokumentasi budaya.
"Melalui kolaborasi ini, Aksara Batak memiliki peluang untuk memperoleh ruang penggunaan yang lebih luas dalam ekosistem internet internasional, sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat Batak di tengah perkembangan teknologi informasi," tutur Pauzi.
Partisipasi USU dalam ICANN87 juga mencerminkan kontribusi perguruan tinggi Indonesia dalam mendukung upaya PANDI memperkenalkan aksara-aksara Nusantara kepada komunitas pengelola internet global.
"Pengembangan LGR Aksara Batak diharapkan menjadi salah satu langkah strategis menuju pemanfaatan aksara tradisional sebagai bagian dari identitas digital Indonesia," jelas Pauzi.
Dengan demikian, ia menambahkan bahwa warisan budaya Batak tidak hanya dapat dipertahankan sebagai peninggalan sejarah. "Namun, juga berpeluang berkembang dan digunakan dalam infrastruktur komunikasi digital dunia," tandasnya.
Editor: Jafar Sembiring