Kajian CERAH Paparkan Potensi Penghematan APBN di Proyek PLTU Sumut-1
Senada dengan hal itu, akademisi Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU), Onrizal, menekankan bahwa dampak ekologis akibat kerusakan lingkungan dari operasional PLTU selama ini merupakan biaya tersembunyi (hidden cost) yang belum diperhitungkan dalam analisis ekonomi saat menghitung investasi di awal proyek. Ia menambahkan, dampak yang ditimbulkan sering kali tidak terbatas pada wilayah sekitar proyek, namun menjangkau area yang lebih luas.
“Ketika kita ingin membangun proyek, risiko-risiko ini harus ditimbang dari puluhan tahun, bukan hanya hari ini. Sehingga yang perlu digarisbawahi adalah jangan memindahkan beban finansial dan warisan pemulihan pada masyarakat terutama generasi berikutnya dari pembangunan dan operasional pembangkit saat ini,” tegas Onrizal.
Sementara itu, Policy Strategist Coordinator CERAH, Dwi Wulan Ramadani, menilai pemerintah perlu mempertimbangkan ulang apabila ingin melanjutkan investasi PLTU Sumut-1 di tengah ambisi Presiden Prabowo Subianto dalam memelopori energi bersih melalui program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 Gigawatt Peak (GWp).
“Ambisi Indonesia untuk membangun 100 GWp PLTS tidak cukup dinilai dari berapa banyak kapasitas yang dibangun, namun perlu dibarengi dengan evaluasi investasi PLTU yang justru secara hitungan tidak kompetitif. Dengan tidak melanjutkan kembali pembangunan PLTU Sumut-1, berpotensi menciptakan penghematan yang justru bisa dialokasikan untuk membangun PLTS 100 GWp,” pungkas Dwi Wulan.
Editor: Jafar Sembiring