39 Tahun Rawat Keberagaman, YP SIM Salurkan Rp71 Miliar untuk Pendidikan Anak Kurang Mampu
Tema keberagaman tersebut juga tercermin dari nama yayasan. Abdul Mu'ti menyoroti pilihan nama Sultan Iskandar Muda, seorang sultan dari Kesultanan Aceh yang beragama Islam, yang digunakan oleh Sofyan Tan, seorang warga keturunan Tionghoa beragama Buddha.
Menurut dia, hal itu menjadi salah satu gambaran bagaimana identitas keindonesiaan dibangun melampaui batas suku dan agama.
“Seorang Tionghoa yang beragama Buddha mengangkat nama seorang Sultan yang beragama Islam sebagai nama yayasannya. Itulah contoh keindonesiaan,” ujar Abdul Mu'ti.
Siapkan Sekolah Luar Biasa
Dalam momentum ulang tahun ke-39 itu, Sofyan juga menyampaikan rencana pengembangan lembaga pendidikan baru berupa Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk anak-anak penyandang disabilitas.
Ia mengatakan, lahan untuk pembangunan sekolah tersebut telah disiapkan. Kehadiran SLB diharapkan melengkapi ekosistem pendidikan YP SIM sebagai lembaga pendidikan yang semakin inklusif.
Abdul Mu'ti merespons positif rencana tersebut. Ia mengatakan pemerintah akan berupaya mendukung pembangunan unit sekolah baru tersebut sesuai ketersediaan anggaran.
“Kalau tahun ini masih ada anggarannya, kami usahakan dapat Unit Sekolah Baru. Tapi kalau tidak ada, kita perjuangkan untuk dapat pada tahun yang akan datang,” katanya.
Bagi Abdul Mu'ti, pendidikan bermutu tidak cukup hanya berbicara mengenai capaian akademik. Pendidikan juga harus mampu membangun sumber daya manusia yang dapat hidup dan bekerja bersama di tengah perbedaan.
“Sekolah adalah rumah bagi semua anak Indonesia,” pungkasnya
Editor : Ismail