39 Tahun Rawat Keberagaman, YP SIM Salurkan Rp71 Miliar untuk Pendidikan Anak Kurang Mampu
Sekolah sebagai Ruang Pertemuan Keberagaman
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti yang hadir dalam perayaan tersebut menilai YP SIM menunjukkan bagaimana lembaga pendidikan masyarakat dapat mengambil peran langsung dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
Ia bahkan menyebut apa yang dilakukan YP SIM sebagai bukti nyata partisipasi masyarakat dalam membangun pendidikan.
“Yang dilakukan oleh Pak Sofyan Tan adalah bukti nyata bagaimana masyarakat berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan dalam memperkuat keindonesiaan kita,” kata Abdul Mu'ti.
Menurut dia, keberagaman justru harus ditempatkan sebagai kekuatan pendidikan. Sekolah tidak semestinya menjadi tempat untuk menyeragamkan anak, melainkan ruang untuk mempertemukan mereka yang berbeda latar belakang.
“Persatuan bukanlah penyeragaman, tapi persatuan itu adalah kesiapan kita menerima semua perbedaan,” ujarnya.
Abdul Mu'ti menyebut sekolah sebagai meeting point, tempat anak-anak dari latar belakang agama, suku dan kondisi ekonomi yang berbeda bertemu. Namun, sekolah juga harus menjadi melting point, yakni ruang untuk membangun identitas kebangsaan tanpa menghilangkan identitas masing-masing.
“Rukun itu tidak berarti meniadakan perbedaan. Rukun adalah sikap di mana kita bisa menerima perbedaan dan kemudian bisa bekerja sama dengan berbagai kesamaan yang kita miliki,” katanya.
Editor : Ismail