get app
inews
Aa Text
Read Next : Ingin Kuliah, Tapi Terganjal Desil 6-10: Tangis Ayah di Medan Pecah

39 Tahun Rawat Keberagaman, YP SIM Salurkan Rp71 Miliar untuk Pendidikan Anak Kurang Mampu

Rabu, 26 Agustus 2026 | 12:47 WIB
header img
Mendikdasmen Abdul Mu’ti dan Sofyan Tan berbaur bersama siswa YP SIM dalam perayaan HUT ke-39 Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda di Medan. Foto: Ismail/iNewsMedan.id

MEDAN, iNewsMedan.id – Pendidikan bagi anak dari keluarga kurang mampu menjadi salah satu fokus yang terus dipertahankan Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YP SIM) selama 39 tahun. Hingga kini, yayasan tersebut mencatat lebih dari 7.500 penerima manfaat program anak asuh dengan total dana yang telah digelontorkan mencapai lebih dari Rp71 miliar.

Hal itu disampaikan Ketua Dewan Pembina YP SIM, Sofyan Tan, dalam perayaan ulang tahun ke-39 yayasan bertema “39 Tahun Merawat Keberagaman Bangsa, Hidup Rukun dalam Keberagaman” di Medan, Rabu (26/8/2026).

Perayaan tersebut dihadiri Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Abdul Mu'ti. Hadir pula Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Kemendikdasmen Biyanto serta Direktur Sekolah Menengah Pertama Kemendikdasmen Maulani Mega Hapsari.

Sofyan Tan mengatakan, perjalanan YP SIM tidak dimulai dengan kondisi yang serba mudah. Sekolah yang didirikannya pada 1987 itu justru lahir dalam kondisi penuh keterbatasan, termasuk pembiayaan pembangunan yang bersumber dari pinjaman bank.

“Tidak ada sejengkal pun tanah yang dibeli dengan uang sendiri. Sepenuhnya uang dari bank,” kata anggota Komisi X DPR RI itu.

Saat awal berdiri, YP SIM hanya memiliki 1.500 meter persegi lahan, tujuh ruang kelas, tiga ruang administrasi dan 171 siswa. Sebagian besar siswa ketika itu berasal dari keluarga yang tidak mampu membayar biaya pendidikan.

Sofyan bahkan mengaku turun langsung mencari anak-anak dari keluarga miskin di sekitar Sunggal untuk ditawarkan bersekolah.

“Saya keliling Sunggal, berada di tepi-tepi Sungai Sunggal, mencari rumah-rumah yang jelek dan menawarkan anaknya untuk sekolah,” ujarnya.

Menurut dia, prinsip tersebut masih dipertahankan hingga kini melalui sistem subsidi silang. Siswa dari keluarga yang benar-benar tidak mampu mendapat bantuan, sementara keluarga yang mampu membayar biaya pendidikan secara penuh.

“Tidak ada di sekolah ini yang menyatakan kamu tidak punya uang, tidak bisa sekolah. Kalau kamu kurang mampu, bayar semampumu. Tetapi yang mampu harus membayar penuh,” katanya.

Dari model tersebut, program anak asuh YP SIM kini telah menjangkau 7.511 orang. Bantuan tidak hanya berupa pengurangan biaya sekolah, tetapi juga mencakup dukungan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga dengan kondisi ekonomi lemah.

Di sisi lain, yayasan juga mengembangkan program kesejahteraan bagi guru dan tenaga kependidikan. Sofyan menyebut, dana yang telah dialokasikan untuk pendidikan dan kesejahteraan guru, termasuk kuliah anak guru, mencapai lebih dari Rp17 miliar.

“Semua uang yang masuk berupa uang sekolah, uang kuliah dan sebagainya, sepenuhnya diperuntukkan untuk anak-anak dan guru-guru kami. Sama sekali yayasan tidak mengambil keuntungan untuk bagi dividen,” katanya.

Kini YP SIM menaungi tujuh lembaga pendidikan, mulai dari TK, SD, SMP, SMA, SMK hingga perguruan tinggi. Jumlah siswa di jenjang sekolah mencapai 4.533 orang, sedangkan Universitas Satya Terra Bhinneka yang baru berusia sekitar empat tahun telah memiliki sekitar 7.500 mahasiswa.

Dengan keseluruhan ekosistem pendidikan tersebut, yayasan mempekerjakan sekitar 560 guru, dosen dan tenaga kependidikan.

Yang menarik, Sofyan menyebut angka partisipasi lulusan SMA dan SMK YP SIM yang melanjutkan pendidikan tinggi telah mencapai 95 persen. Angka tersebut jauh di atas angka partisipasi kasar perguruan tinggi nasional yang disebutnya berada di kisaran 32 persen.

“Anak-anak kita yang tamat SMA dan SMK kebanyakan sudah masuk ke perguruan tinggi,” ujarnya.

Sekolah sebagai Ruang Pertemuan Keberagaman

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti yang hadir dalam perayaan tersebut menilai YP SIM menunjukkan bagaimana lembaga pendidikan masyarakat dapat mengambil peran langsung dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Ia bahkan menyebut apa yang dilakukan YP SIM sebagai bukti nyata partisipasi masyarakat dalam membangun pendidikan.

“Yang dilakukan oleh Pak Sofyan Tan adalah bukti nyata bagaimana masyarakat berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan dalam memperkuat keindonesiaan kita,” kata Abdul Mu'ti.

Menurut dia, keberagaman justru harus ditempatkan sebagai kekuatan pendidikan. Sekolah tidak semestinya menjadi tempat untuk menyeragamkan anak, melainkan ruang untuk mempertemukan mereka yang berbeda latar belakang.

“Persatuan bukanlah penyeragaman, tapi persatuan itu adalah kesiapan kita menerima semua perbedaan,” ujarnya.

Abdul Mu'ti menyebut sekolah sebagai meeting point, tempat anak-anak dari latar belakang agama, suku dan kondisi ekonomi yang berbeda bertemu. Namun, sekolah juga harus menjadi melting point, yakni ruang untuk membangun identitas kebangsaan tanpa menghilangkan identitas masing-masing.

“Rukun itu tidak berarti meniadakan perbedaan. Rukun adalah sikap di mana kita bisa menerima perbedaan dan kemudian bisa bekerja sama dengan berbagai kesamaan yang kita miliki,” katanya.

Tema keberagaman tersebut juga tercermin dari nama yayasan. Abdul Mu'ti menyoroti pilihan nama Sultan Iskandar Muda, seorang sultan dari Kesultanan Aceh yang beragama Islam, yang digunakan oleh Sofyan Tan, seorang warga keturunan Tionghoa beragama Buddha.

Menurut dia, hal itu menjadi salah satu gambaran bagaimana identitas keindonesiaan dibangun melampaui batas suku dan agama.

“Seorang Tionghoa yang beragama Buddha mengangkat nama seorang Sultan yang beragama Islam sebagai nama yayasannya. Itulah contoh keindonesiaan,” ujar Abdul Mu'ti.

Siapkan Sekolah Luar Biasa

Dalam momentum ulang tahun ke-39 itu, Sofyan juga menyampaikan rencana pengembangan lembaga pendidikan baru berupa Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk anak-anak penyandang disabilitas.

Ia mengatakan, lahan untuk pembangunan sekolah tersebut telah disiapkan. Kehadiran SLB diharapkan melengkapi ekosistem pendidikan YP SIM sebagai lembaga pendidikan yang semakin inklusif.

Abdul Mu'ti merespons positif rencana tersebut. Ia mengatakan pemerintah akan berupaya mendukung pembangunan unit sekolah baru tersebut sesuai ketersediaan anggaran.

“Kalau tahun ini masih ada anggarannya, kami usahakan dapat Unit Sekolah Baru. Tapi kalau tidak ada, kita perjuangkan untuk dapat pada tahun yang akan datang,” katanya.

Bagi Abdul Mu'ti, pendidikan bermutu tidak cukup hanya berbicara mengenai capaian akademik. Pendidikan juga harus mampu membangun sumber daya manusia yang dapat hidup dan bekerja bersama di tengah perbedaan.

“Sekolah adalah rumah bagi semua anak Indonesia,” pungkasnya 

Editor : Ismail

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut