Untuk memperluas pengenalan produk, ia memanfaatkan pameran dan media sosial. Menurutnya, kedua saluran tersebut dapat membantu memperkenalkan kain tenun Nias kepada masyarakat yang lebih luas.
“Sampai saat ini yang kebanyakan membeli itu 80 persen masih orang luar,” katanya.
Raminalai berharap Tuwu Nukhada tidak hanya berkembang sebagai produk kain premium, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan identitas budaya Nias dan membuka peluang ekonomi.
“Harapannya, dengan kelahirannya Tuwu Nukhada ini lewat kain ini Nias itu bisa dikenal lebih lagi, bisa mendatangkan nilai ekonomis, bisa mengangkat kembali,” ujarnya.
Ia menegaskan, langkah tersebut berangkat dari kecintaannya terhadap budaya, sekaligus keinginannya agar Nias memiliki produk khas yang dapat dikenal lebih luas.
“Jadi bukan hanya stuck saya ini karena saya bukan pebisnis. Saya kan hanya punya cinta budaya, cinta. Saya terpanggil, saya terpanggil supaya Nias itu punya sesuatu yang khas dan premium,” tuturnya.
Tuwu Nukhada kini memiliki rumah produksi di kawasan Citra Garden, Padang Bulan, Medan, serta mengembangkan produksi di Pulau Jawa. Produk kain tenun tersebut dapat dijumpai di Galeri Wastra by ASEPHI Sumatera Utara, Medan Mall, Jalan MT Haryono Nomor 8, Medan, dan di Jalan Pengadilan Nomor 23 F, Pabaton, Kota Bogor.
Melalui pengembangan tersebut, Raminalai berharap motif dan sejarah budaya Nias semakin dikenal, sementara keterampilan menenun yang lama ditinggalkan dapat kembali dipelajari oleh generasi berikutnya.
Editor : Ismail
Artikel Terkait
