Saat ini, bangunan ponpes di Medan Johor sama sekali tidak dapat difungsikan akibat tingkat kerusakan bangunan yang sangat masif.
"Bisa dibilang hampir 70 persen rusak, atap sengnya copot hampir semua, jadi tidak bisa digunakan belajar," tambah Mukti.
Guna mengejar target hafalan Al-Qur'an para santriwati agar tidak terputus, Mukti mengaku kini berjuang mandiri mencari pinjaman dana untuk segera merenovasi atap bangunan yang hancur.
Langkah ini diambil mengingat mayoritas santriwati di Ponpes Al-Abrary berasal dari latar belakang kurang mampu yang menempuh pendidikan secara gratis melalui program orang tua asuh.
"Makanya sekarang secara pribadi saya cari pinjaman, utang untuk bisa perbaiki pondok pesantren kami. Ya setidaknya biar cepat bisa dipakai kembali. Rata-rata anak-anak kita ini gratis uang sekolahnya, sedikit yang memang dibiayai orang tua aslinya," tuturnya.
Hingga Rabu sore, belum ada bantuan resmi dari pihak pemerintah setempat yang mengalir ke lokasi. Mukti menegaskan pihak pesantren sangat terbuka bagi para dermawan maupun masyarakat yang ingin mengulurkan bantuan demi perbaikan tempat belajar para hafizah tersebut.
"Kalau bantuan sementara belum, tapi kalau memang ada yang hendak bantu, kami sangat terbuka. Yang penting anak-anak kami tidak terganggu belajarnya," pungkas Mukti.
Editor : Chris
Artikel Terkait
