Pengalaman Sofyan tersebut menjadi contoh bahwa Sensus Ekonomi 2026 pada dasarnya merupakan proses pendataan untuk melihat wajah ekonomi masyarakat secara lebih utuh.
Apalagi, perekonomian saat ini telah berubah sangat cepat. Aktivitas usaha tidak lagi hanya berlangsung di toko, pasar atau kantor. Banyak usaha tumbuh dari rumah, berpindah ke ruang digital, memanfaatkan media sosial, perdagangan elektronik, hingga berbagai model usaha baru yang muncul mengikuti perkembangan teknologi. Karena itu, data ekonomi yang akurat menjadi semakin penting.
Kekhawatiran bahwa data Sensus Ekonomi akan berkaitan dengan pajak juga ditepis Deputi Bidang Statistik Produksi BPS RI M. Habibullah yang turut serta dalam pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026. Ia menegaskan bahwa Sensus Ekonomi tidak memiliki kaitan dengan urusan pajak.
“Ini tidak ada kaitannya dengan data pribadi. Semua data akan diagregasi, disatukan semua datanya. Jadi tidak ada data pribadi yang akan dipublikasikan,” jelasnya.
Menurut Habibullah, tujuan utama SE2026 adalah memperoleh gambaran ekonomi Indonesia yang lebih lengkap sehingga arah pembangunan dapat dipetakan berdasarkan kondisi nyata.
“Kita ingin petakan arah ekonomi Indonesia. Memetakan peluang dan ekspansi ekonomi ke depan,” ujarnya.
Turut serta dalam pelaksanaan sensus tersebut Kepala BPS Sumatera Utara Asim Saputra, Kepala Bagian Umum BPS Provinsi Sumatera Utara Dadan Supriadi, serta Pejabat Fungsional Statistik Utama BPS Provinsi Sumatera Utara Misfaruddin.
Editor : Ismail
Artikel Terkait
