Sementara itu, Ketua IDAI Sumatera Utara, dr. Rizky Adriansyah, Sp.A(K), mengatakan penyakit jantung bawaan masih menjadi salah satu masalah kesehatan anak yang perlu mendapat perhatian serius. Berdasarkan perkiraan, terdapat sekitar 50 ribu bayi yang lahir dengan kelainan jantung setiap tahun di Indonesia.
Namun, jumlah pasien yang akhirnya mendapat penanganan dokter subspesialis masih sangat rendah.
"Dari sekitar 50 ribu kasus itu, yang sampai ke dokter jantung anak saya rasa tidak sampai 10 persen. Data kami pada 2023 sekitar 7.000 sampai 8.000 kasus yang tertangani dalam setahun," kata Rizky.
Ia menyebut keterlambatan penanganan dipengaruhi banyak faktor, mulai dari sistem rujukan yang belum optimal, keterbatasan akses layanan, hingga masih adanya orang tua yang menolak rujukan atau takut anaknya menjalani operasi.
"Kasus yang datang terlambat ke dokter jantung anak masih sangat banyak," ujarnya.
Menurut Rizky, upaya pencegahan penyakit jantung bawaan harus dimulai sejak masa kehamilan melalui pemenuhan gizi ibu dan perhatian terhadap 1.000 hari pertama kehidupan.
Kegiatan Pediatric Cardiology Update (PCU) XIV yang digelar IDAI Sumut diikuti 382 peserta dari Aceh hingga Papua. Rangkaian kegiatan tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional 2026 dan akan dilanjutkan dengan pelayanan kesehatan anak di Kabupaten Samosir pada 24–26 Juli yang menargetkan sekitar 600 anak dengan melibatkan 200 dokter spesialis anak dan 70 dokter subspesialis kardiologi anak.
Editor : Ismail
Artikel Terkait
