MEDAN, iNewsMedan.id– Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A., Subsp.Kardio(K), menyoroti masih panjangnya rantai keterlambatan penanganan penyakit jantung pada anak di Indonesia. Keterbatasan dokter subspesialis, akses layanan yang belum merata, hingga lambatnya proses rujukan menjadi penyebab banyak pasien baru mendapat penanganan saat kondisinya sudah memburuk.
"Kardiologi anak ini masih menjadi masalah yang perlu kita pecahkan bersama. Ada keterbatasan konsultan dan jarak yang jauh untuk penanganan masalah anak," ujar Piprim usai menghadiri Pediatric Cardiology Update (PCU) XIV di Medan, Kamis (23/7/2026).
Menurutnya, keterlambatan tidak hanya terjadi pada proses diagnosis, tetapi juga saat pasien memperoleh pengobatan, dirujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas memadai, hingga akhirnya menjalani operasi.
"Rantai keterlambatan itu harus diputus agar anak-anak mendapat kesempatan memperoleh penanganan tepat waktu," katanya.
Piprim mengungkapkan, Indonesia saat ini baru memiliki sekitar 100 dokter konsultan jantung anak, sementara kebutuhan ideal diperkirakan mencapai 500 orang. Akibatnya, sekitar 12 provinsi hingga kini belum memiliki konsultan jantung anak.
Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, IDAI tengah menyiapkan sistem pengampuan antardaerah. Melalui skema ini, dokter di wilayah yang belum memiliki konsultan dapat berkonsultasi dengan dokter subspesialis di provinsi lain melalui layanan telemedicine.
Selain itu, IDAI juga menjalankan program proctorship atau dokter terbang, yakni mengirim konsultan jantung anak ke daerah yang belum memiliki layanan subspesialis untuk menangani pasien sekaligus memberikan pelatihan kepada tenaga kesehatan setempat.
"Ini menjadi jembatan sambil menunggu jumlah konsultan mencukupi. Telemedicine dan dokter terbang sudah kami lakukan di sejumlah daerah," ujarnya.
Piprim menambahkan, penambahan jumlah konsultan membutuhkan proses panjang karena harus melalui pendidikan subspesialis. Saat ini, pendidikan konsultan jantung anak hanya tersedia di empat pusat pendidikan, yakni Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Karena itu, IDAI mendorong dokter spesialis anak di daerah untuk melanjutkan pendidikan agar pemerataan layanan dapat tercapai.
Sementara itu, Ketua IDAI Sumatera Utara, dr. Rizky Adriansyah, Sp.A(K), mengatakan penyakit jantung bawaan masih menjadi salah satu masalah kesehatan anak yang perlu mendapat perhatian serius. Berdasarkan perkiraan, terdapat sekitar 50 ribu bayi yang lahir dengan kelainan jantung setiap tahun di Indonesia.
Namun, jumlah pasien yang akhirnya mendapat penanganan dokter subspesialis masih sangat rendah.
"Dari sekitar 50 ribu kasus itu, yang sampai ke dokter jantung anak saya rasa tidak sampai 10 persen. Data kami pada 2023 sekitar 7.000 sampai 8.000 kasus yang tertangani dalam setahun," kata Rizky.
Ia menyebut keterlambatan penanganan dipengaruhi banyak faktor, mulai dari sistem rujukan yang belum optimal, keterbatasan akses layanan, hingga masih adanya orang tua yang menolak rujukan atau takut anaknya menjalani operasi.
"Kasus yang datang terlambat ke dokter jantung anak masih sangat banyak," ujarnya.
Menurut Rizky, upaya pencegahan penyakit jantung bawaan harus dimulai sejak masa kehamilan melalui pemenuhan gizi ibu dan perhatian terhadap 1.000 hari pertama kehidupan.
Kegiatan Pediatric Cardiology Update (PCU) XIV yang digelar IDAI Sumut diikuti 382 peserta dari Aceh hingga Papua. Rangkaian kegiatan tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional 2026 dan akan dilanjutkan dengan pelayanan kesehatan anak di Kabupaten Samosir pada 24–26 Juli yang menargetkan sekitar 600 anak dengan melibatkan 200 dokter spesialis anak dan 70 dokter subspesialis kardiologi anak.
Editor : Ismail
Artikel Terkait
