MEDAN, iNewsMedan.id – Pasar modal di Sumatera Utara terus memperluas basis investornya. Dalam 14 tahun terakhir, jumlah investor di provinsi ini melonjak dari sekitar 15.000 menjadi 1.494.064 Single Investor Identification (SID) hingga akhir Juli 2026.
Kepala Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) Sumut, M Pintor Nasution, mengatakan pertumbuhan tersebut menunjukkan perubahan besar dalam minat masyarakat terhadap investasi pasar modal.
"Saya sudah 14 tahun di bursa efek ini dan terasa sekali pertumbuhannya. Kalau dulu jumlah investor di Sumut hanya 15.000, sekarang hampir mendekati 1,5 juta. Bahkan, secara nasional, jumlah investor pasar modal mencapai 31,14 juta hingga Agustus 2026," kata Pintor, Jumat, 11 September 2026.
Menariknya, kelompok usia muda kini menjadi penyumbang terbesar jumlah investor di Sumut. Investor berusia 18-25 tahun mencapai 33,68 persen dari total SID. Berikutnya kelompok usia 26-30 tahun sebesar 24,38 persen, sedangkan investor berusia 31 tahun ke atas mencapai 24,40 persen.
Namun, dominasi anak muda tersebut belum berbanding lurus dengan penguasaan aset.
Pintor mengatakan investor muda unggul dari sisi jumlah, sementara investor yang lebih senior masih menguasai porsi aset yang lebih besar.
"Young in numbers, older in wealth," ujarnya.
Dari sisi gender, investor laki-laki masih mendominasi dengan proporsi 63,84 persen. Sementara investor perempuan mencapai 35,38 persen.
Sebaran investor juga masih terkonsentrasi di sejumlah daerah. Kota Medan menjadi wilayah dengan jumlah investor terbesar, yakni 396.361 SID. Disusul Langkat sebanyak 79.797 SID dan Asahan 59.252 SID.
Pertumbuhan investor tersebut berlangsung di tengah kondisi pasar saham yang cukup bergejolak sepanjang 2026. Hingga 31 Agustus 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat sekitar 4,64 persen dan ditutup pada level 6.525,18.
Sebelumnya, IHSG sempat berada di kisaran 9.000 sebelum mengalami tekanan akibat berbagai sentimen global dan domestik. Isu MSCI, S&P, perubahan outlook surat utang, ketegangan geopolitik, kenaikan harga minyak, hingga perkembangan Iran dan Selat Hormuz turut memengaruhi pergerakan pasar.
Di tengah tekanan tersebut, aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia justru meningkat. Hingga 31 Agustus 2026, nilai transaksi perdagangan naik 20,1 persen. Frekuensi transaksi juga meningkat 39,6 persen, disertai kenaikan volume perdagangan saham.
"Walaupun banyak gejolak di tahun ini, dari data kami volatilitas dan aktivitas di Bursa Efek Indonesia mengalami kenaikan, baik dari sisi value, volume maupun frekuensi," kata Pintor.
Editor : Ismail
Artikel Terkait
