Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, IDAI tengah menyiapkan sistem pengampuan antardaerah. Melalui skema ini, dokter di wilayah yang belum memiliki konsultan dapat berkonsultasi dengan dokter subspesialis di provinsi lain melalui layanan telemedicine.
Selain itu, IDAI juga menjalankan program proctorship atau dokter terbang, yakni mengirim konsultan jantung anak ke daerah yang belum memiliki layanan subspesialis untuk menangani pasien sekaligus memberikan pelatihan kepada tenaga kesehatan setempat.
"Ini menjadi jembatan sambil menunggu jumlah konsultan mencukupi. Telemedicine dan dokter terbang sudah kami lakukan di sejumlah daerah," ujarnya.
Piprim menambahkan, penambahan jumlah konsultan membutuhkan proses panjang karena harus melalui pendidikan subspesialis. Saat ini, pendidikan konsultan jantung anak hanya tersedia di empat pusat pendidikan, yakni Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Karena itu, IDAI mendorong dokter spesialis anak di daerah untuk melanjutkan pendidikan agar pemerataan layanan dapat tercapai.
Editor : Ismail
Artikel Terkait
