Sejumlah ulama juga menjelaskan bahwa puasa Tarwiyah dianjurkan sebagai bentuk kehati-hatian agar tidak terlewat keutamaan hari Arafah. Imam Ibnu Hajar al-Haitami menyebut puasa pada 8 Dzulhijjah penting dilakukan sebagai langkah ihtiyath atau kehati-hatian terhadap penentuan hari Arafah.
Sementara itu, puasa Arafah disebut sangat dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang berhaji. Adapun bagi jamaah haji yang tengah menjalani wukuf di Arafah, sebagian ulama memandang lebih utama tidak berpuasa agar kondisi fisik tetap kuat untuk memperbanyak doa dan ibadah.
Dalam penjelasan ulama, dosa yang dihapus melalui puasa Arafah adalah dosa-dosa kecil yang tidak berkaitan dengan hak sesama manusia. Sedangkan dosa besar hanya dapat dihapus dengan tobat yang sungguh-sungguh.
Terkait niat, puasa Tarwiyah dan Arafah dilakukan sebagaimana puasa sunnah pada umumnya, yakni sejak malam hari hingga sebelum terbit fajar. Namun, niat puasa sunnah juga diperbolehkan dilakukan pada siang hari selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa.
Berikut bacaan niat puasa Tarwiyah dan Arafah:
Niat Puasa Tarwiyah
“Nawaitu shauma tarwiyata sunnatan lillāhi ta’ālā.”
Artinya: “Saya niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah Ta’ala.”
Editor : Ismail
Artikel Terkait
