Bukan Sekadar Teknologi, Transisi Energi di Sumut Harus Berbasis Kemanusiaan dan Fikih

Jafar Sembiring
Workshop transisi energi di Medan soroti dampak PLTU batu bara dan dorong penggunaan energi bersih di Sumatera Utara, Kamis (12/3/2026). Foto: Istimewa

Ketua Lembaga Kajian Strategis DPW Al Jam’iyatul Washliyah Sumatera Utara, Dr. Azizul Kholis, menekankan pentingnya peran organisasi kemasyarakatan dalam mempercepat transisi energi di Indonesia.

Menurutnya, di tengah proses transisi energi yang dinilai masih berjalan lambat, keterlibatan organisasi masyarakat sipil, termasuk organisasi keagamaan, dapat menjadi kekuatan baru untuk mendorong implementasi energi bersih.

“Kami dari Al Washliyah, khususnya PD Al Washliyah Kota Medan, sangat bergembira bisa berbagi pemikiran bersama pemerintah, pemangku kepentingan, masyarakat sipil, dan akademisi untuk memikirkan bagaimana transisi energi ini benar-benar bisa terimplementasi,” ujarnya.

Azizul menjelaskan, Al Washliyah juga telah terlibat dalam pengembangan gagasan terkait energi berkelanjutan. Salah satunya melalui penulisan buku tentang fikih energi dan kaitannya dengan transisi energi yang disusun pada November 2025 dan akan segera diterbitkan.

Ia menilai nilai-nilai keagamaan sebenarnya memiliki landasan kuat untuk mendukung pelestarian lingkungan. Beberapa ayat Al-Qur’an menegaskan tanggung jawab manusia untuk menjaga keseimbangan alam.

Dalam pemaparannya, Azizul juga memaparkan simulasi potensi organisasi Al Washliyah di Kota Medan. Saat ini terdapat sekitar 21 cabang tingkat kecamatan, 54 ranting, 151 sekolah, dua panti asuhan, serta berbagai fasilitas lain dengan total sekitar 243 unit aset organisasi.

Ia mencontohkan, salah satu panti asuhan milik Al Washliyah di Kota Medan mengeluarkan biaya listrik hampir Rp10 juta per bulan. Jika dihitung secara keseluruhan, biaya listrik konvensional untuk fasilitas Al Washliyah di Kota Medan diperkirakan mencapai sekitar Rp6,24 miliar per tahun.

“Jika proyeksi ini diperluas ke seluruh pengurus Al Washliyah di Sumatera Utara yang berjumlah sekitar 29 daerah, nilainya bisa mencapai sekitar Rp52 miliar per tahun. Padahal ini baru satu organisasi,” jelasnya.

Selain itu, ia juga menyoroti potensi penghematan energi pada sektor rumah ibadah. Berdasarkan data Dewan Masjid Indonesia, terdapat sekitar 10.899 masjid di Sumatera Utara. Jika rata-rata biaya listrik masjid mencapai Rp500 ribu per bulan, maka total pengeluaran listrik dapat mencapai sekitar Rp65 miliar per tahun.

Dari kondisi tersebut, Azizul memperkenalkan konsep “sedekah energi”, yakni pemanfaatan energi terbarukan seperti panel surya untuk memenuhi kebutuhan listrik fasilitas sosial dan keagamaan.

“Bayangkan jika sebagian kebutuhan listrik masjid bisa dipenuhi oleh panel surya. Penghematan yang terjadi bisa menjadi bentuk sedekah energi yang sangat besar manfaatnya bagi masyarakat,” katanya.

Editor : Jafar Sembiring

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3 4 5

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network