MEDAN, iNewsMedan.id- Begadang tiap malam, kopi jadi bestie, makan pedas level maksimal, siang bolong baru ingat belum makan. Pola hidup kayak gini bukan hal asing buat Gen Z. Tapi combo itu juga yang bikin asam lambung gampang naik. Lalu pas Ramadan datang, muncul pertanyaan: tetap puasa atau boleh break?
Dalam Islam, jawabannya nggak hitam-putih. Ada dalilnya, jelas dan tegas.
Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 184:
“Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib mengganti) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”
Lalu ditegaskan lagi di ayat 185:
“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”
Artinya? Kalau sakitnya real dan berisiko, ada keringanan. Bukan berarti gampang menyerah, tapi juga bukan disuruh nekat.
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan, orang sakit yang jika berpuasa bisa memperparah penyakitnya, maka ia boleh berbuka. Jadi ukurannya bukan “aku masih kuat kok”, tapi apakah ada potensi bahaya atau tidak.
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ bahkan menyebut, jika puasa bisa membahayakan atau memperlambat kesembuhan, berbuka itu lebih utama, dan dalam kondisi tertentu bisa jadi wajib. Jadi kalau sampai nyeri hebat, muntah terus, atau ada risiko luka lambung makin parah, jangan dipaksakan.
Penegasan serupa datang dari Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni. Ia menyatakan orang sakit yang akan bertambah parah jika berpuasa, boleh berbuka tanpa perbedaan pendapat di kalangan ulama.
Dalam kaidah fikih juga ada prinsip:
“La dharar wa la dhirar”
Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Konteksnya ke Gen Z hari ini? Asam lambung sering kambuh bukan cuma karena takdir, tapi gaya hidup. Kurang tidur, stres kerja atau kuliah, minum kopi berlebihan, pola makan berantakan. Kalau kondisi masih ringan dan bisa dikontrol, puasa tetap jalan. Tapi kalau sudah masuk kategori akut dan dokter menyarankan tidak puasa, maka ada ruang syariat untuk itu.
Skemanya jelas:
Sakit sementara → tidak puasa, lalu qadha setelah sembuh.
Sakit kronis dan tak memungkinkan puasa → bayar fidyah.
Pesannya bukan buat cari alasan, tapi buat paham aturan. Islam tidak mengajarkan heroik yang merusak tubuh. Ibadah itu taat, tapi juga sadar batas.
Ramadan bukan ajang pembuktian kuat-kuatan. Kalau asam lambung sering naik karena lifestyle yang chaos, mungkin yang perlu dibenahi bukan cuma jadwal makan, tapi juga ritme hidupnya.
Editor : Ismail
Artikel Terkait
