Akibatnya, meski tanda kebesaran Tuhan sudah terpampang nyata, mentalitas pembangkang tetap mendominasi. Puncaknya adalah ketika mereka dengan lancang meminta dibuatkan tuhan lain kepada Nabi Musa, serta menolak perintah berjihad.
Sikap tidak tahu diri ini terekam dalam Surah Al-Ma'idah ayat 24, saat mereka dengan angkuh menyuruh Nabi Musa dan Tuhannya pergi berperang sendiri sementara mereka hanya duduk menunggu hasil.
قَالُوْا يٰمُوْسٰٓى اِنَّا لَنْ نَّدْخُلَهَآ اَبَدًا مَّا دَامُوْا فِيْهَا ۖفَاذْهَبْ اَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَآ اِنَّا هٰهُنَا قٰعِدُوْنَ
“Mereka berkata, ‘Wahai Musa, sesungguhnya kami sampai kapan pun tidak akan memasukinya selama mereka masih ada di dalamnya. Oleh karena itu, pergilah engkau bersama Tuhanmu, lalu berperanglah kamu berdua. Sesungguhnya kami tetap berada di sini saja’.” (QS Al-Mā'idah [5]: 24).
Pelajaran berharga yang bisa dipetik adalah bahwa iman yang sejati bukan sekadar alat untuk selamat dari kesulitan hidup atau pelarian saat ditimpa masalah.
Iman adalah kepatuhan mutlak dan ketundukan hati kepada Allah dalam kondisi lapang maupun sempit. Sebagai umat Islam kisah ini adalah pengingat agar kita senantiasa menjaga kelembutan hati dan merawat ketaatan, supaya kita tidak menjadi kaum yang hanya mencari Tuhan saat butuh, namun berpaling saat diminta berjuang.
Allāhu Ta‘āla a‘lam bishawab.
Editor : Vitrianda Hilba SiregarEditor Jakarta
Artikel Terkait
