Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : UMKM Sumatera Utara Tampil di KKI 2026, Bawa Produk Lokal Menembus Pasar Nasional
Advertisement . Scroll to see content

Ikhtiar Tabita Olah Eceng Gondok di Toba Jadi Sandal: Menjaga Lingkungan, Menggerakkan Ekonomi

Kamis, 17 September 2026 | 23:33 WIB
  • author Jafar
Ikhtiar Tabita Olah Eceng Gondok di Toba Jadi Sandal: Menjaga Lingkungan, Menggerakkan Ekonomi
Sumondang Tabita Nainggolan (34) menunjukkan proses pembuatan sandal berbahan eceng gondok di gubuk produksinya, Desa Parsaoran I, Samosir, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Foto: Jafar/iNewsMedan.id

Langkah Pemanfaatan Limbah Positif 

Langkah mandiri yang ditekuni Tabita di tingkat tapak sesungguhnya beririsan langsung dengan persoalan ekologis Danau Toba. Pertumbuhan eceng gondok yang melimpah selama ini kerap dikeluhkan masyarakat sebagai limbah perairan yang merusak pemandangan dan mengganggu aktivitas danau.

Pegiat lingkungan berbasis Geopark Kaldera Toba sekaligus peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang, menegaskan bahwa keberadaan eceng gondok di Danau Toba harus dipahami secara ilmiah dan berbasis data, bukan sekadar pandangan emosional.

”Saya menyampaikan ini berdasarkan pengamatan lapangan, data yang tersedia, serta penelitian. Ukuran sederhananya harus berbasis data lihat, catat, ukur, verifikasi, bertindak, lalu evaluasi,” ujar Wilmar , Kamis (17/6/2026)

Wilmar menjelaskan bahwa ledakan populasi eceng gondok pada dasarnya merupakan indikator biologis atas tingginya akumulasi limbah nutrien terutama unsur nitrogen dan fosforyang masuk ke perairan danau dari berbagai aktivitas manusia di sekitarnya. Tanaman ini menyerap limbah nutrien tersebut hingga tumbuh sangat cepat.

Oleh karena itu, menurut Wilmar, pemanfaatan eceng gondok sebagai bahan baku kerajinan oleh perajin lokal seperti Tabita merupakan langkah pemanfaatan limbah yang positif, namun harus terikat dalam satu Rantai Pasok Ekonomi yang utuh dan menyeluruh.

”Rantai yang harus dibangun itu utuh mulai dari pemanenan, pengumpulan, pemilahan, pengeringan, pengolahan, pembuatan produk, pemasaran, pemanfaatan, hingga pengelolaan sisa produknya. Pada saat bersamaan, sumber pencemaran atau limbah utamanya di danau juga tetap wajib ditangani,” tegas Wilmar.

Inalum Dorong UMKM Naik Kelas

Kebutuhan akan rantai pasok yang kokoh serta peningkatan kapasitas perajin lokal agar mampu mengolah limbah gulma menjadi produk bernilai tinggi mendapat perhatian penuh dari BUMN.

Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau INALUM berkomitmen hadir mendampingi masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya.

Corporate Secretary INALUM, Mahyaruddin Ende, menyampaikan bahwa dukungan perusahaan terhadap perajin eceng gondok di Samosir merupakan langkah nyata mempertemukan solusi lingkungan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

”Produk kreatif dari eceng gondok ini harus bisa lebih inovatif dan kompetitif di pasar modern saat ini. Kami dari INALUM berkomitmen untuk menjadi rekan pemerintah Indonesia dalam menciptakan UMKM naik kelas melalui program-program kreatif. Kami juga berharap kelompok masyarakat yang terlibat bisa mendapatkan manfaat yang lebih berkelanjutan,” ujar Mahyaruddin Ende dalam keterangan persnya beberapa waktu lalu.

Sinergi ini menunjukkan bahwa keberhasilan Tabita tidak hanya lahir dari ketekunan individu, melainkan dipadukan dengan landasan analisis sains lingkungan serta dukungan pembinaan BUMN untuk mewujudkan industri kreatif yang hijau dan mandiri di Danau Toba.

Editor: Jafar Sembiring

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut