Mengapa Allah Menciptakan Rasa Lupa?
MEDAN, iNewsMedan.id - Ada satu nikmat yang kerap dikeluhkan manusia saban hari, padahal tanpa kehadiran nikmat tersebut, hidup tak akan pernah mengecap ketenangan. Nikmat itu bernama lupa.
Manusia kerap menggerutu saat lupa menaruh barang, lupa nama seseorang, atau melewatkan jadwal penting. Namun, sangat jarang manusia merenungkan: apa jadinya jika Allah tidak menciptakan rasa lupa sama sekali? Bagaimana jika setiap rasa sakit, luka trauma, kehilangan mendalam, serta kata-kata menyakitkan yang pernah didengar terus melekat abadi di dalam ingatan tanpa pernah memudar?
Ibnul Qayyim dalam kitab Miftah Daris Sa'adah menguraikan tiga rahasia besar di balik penciptaan rasa lupa sebagai rahmat bagi kehidupan manusia.
1. Penawar Kesedihan yang Berkepanjangan
Allah Ta'ala berfirman dalam Surah Al Hadid ayat 23:
لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ
“Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu.”
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa seandainya Allah tidak menciptakan lupa, manusia akan terus meratapi kepergian orang tersayang puluhan tahun lalu dengan kadar kesedihan yang sama persis seperti hari pertama kehilangan. Setiap luka lama akan selalu terasa sesak dan menusuk.
Lupa dihadirkan agar kesedihan memiliki batas, air mata memiliki jeda, dan jiwa memiliki ruang untuk kembali bernapas. Tanpa lupa, tak seorang pun sanggup melanjutkan hidup setelah dihantam musibah hebat. Allah menciptakan lupa bukan untuk merugikan, melainkan untuk menyelamatkan hati agar tidak tenggelam dalam duka yang tak bertepi.
Editor: Vitrianda Hilba Siregar