Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Dari Laboratorium Sekolah ke Jepang, Riset Siswa Jabal Rahmah Mulia Berbuah Emas dan Perak
Advertisement . Scroll to see content

Bukan untuk Dikasihani, Kisah 6 Anak Disabilitas Ini Bikin Cara Pandang Kita Berubah

Jum'at, 21 Agustus 2026 | 15:31 WIB
  • author ismail
Bukan untuk Dikasihani, Kisah 6 Anak Disabilitas Ini Bikin Cara Pandang Kita Berubah
Produser film Istimewa Abdullah Mansuri bersama pemeran Aldo, Zulfadli Aldiansyah, dan pemeran Kinan, Yanni Melwani, saat cinema visit di Centre Point XXI Medan, Kamis, 20 Agustus 2026. Foto: Ismail/iNewsMedan.id

Melibatkan 42 Anak Disabilitas

Pesan inklusivitas itu tidak hanya dibangun melalui cerita. Proses produksi Istimewa juga melibatkan puluhan penyandang disabilitas.

Abdullah mengatakan, persiapan film berlangsung sekitar dua tahun. Tantangannya bukan hanya menemukan lokasi yang sesuai dengan cerita, tetapi juga memastikan lokasi tersebut dapat diakses para pemain disabilitas.

"Karena tidak hanya enam pemain, tetapi juga ada 42 anak disabilitas yang ikut bergabung dalam film Istimewa ini," jelasnya.

Keterlibatan mereka juga tidak berhenti sebagai pemain. Sejumlah penyandang disabilitas turut dilibatkan dalam kru produksi hingga pembuatan konten di balik layar.

Para pemain disabilitas juga menjalani proses pembekalan sebelum menjalani peran. Mereka bahkan tinggal di Jakarta selama sekitar dua bulan untuk mendapatkan pelatihan akting dan teknik bermain film.

Namun, bagi Abdullah, proses tersebut menjadi lebih mudah karena cerita yang dimainkan merupakan pengalaman yang dekat dengan kehidupan mereka.

"Kami ada coaching artis, kami ada stay mereka di Jakarta dua bulan untuk mendapatkan ilmu, teknik. Tapi faktanya memang ini cerita mereka, jadi tidak ada kesulitan sama sekali di situ," katanya.

Salah satu pemeran disabilitas, Zulfadli Aldiansyah atau Aldi, memerankan karakter Aldo dalam film tersebut. Ia mengaku bermain film merupakan salah satu cita-citanya sejak kecil.

Untuk mempersiapkan diri, Aldi harus berulang kali membaca naskah dan berlatih dialog, termasuk berlatih dengan dirinya sendiri.

"Susah waktu belajarnya. Sering baca skrip, menderita sedikit, baca skrip sampai baca lawan mainnya sama tembok tiap malam," ujar Aldi.

Meski demikian, pengalaman tersebut membuatnya bangga karena dapat menghasilkan karya sendiri.

"Alhamdulillah, senang, bangga, punya karya sendiri, punya kemampuan sendiri," katanya.

Editor: Ismail

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut