Bukan untuk Dikasihani, Kisah 6 Anak Disabilitas Ini Bikin Cara Pandang Kita Berubah
MEDAN, iNewsMedan.id — Sebuah film tidak selalu hadir sekadar untuk menghibur. Film Istimewa mencoba membawa penonton melihat kehidupan penyandang disabilitas dari sudut pandang yang lebih manusiawi: bukan sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai individu yang memiliki kemampuan, cita-cita, dan kesempatan untuk berkarya.
Pesan itu menjadi salah satu hal yang dibawa dalam kunjungan para pemain dan produser Istimewa ke Centre Point XXI Medan, Kamis (20/8/2026) malam. Medan menjadi kota pertama yang dikunjungi dalam rangkaian perjalanan film tersebut di Pulau Sumatera.
Produser Istimewa, Abdullah Mansuri, mengatakan film ini berangkat dari pengalaman nyata yang ia jalani bersama enam anak disabilitas yang telah bersamanya selama sekitar enam tahun.
Menurutnya, banyak pengalaman bersama anak-anak tersebut yang kemudian dituangkan ke dalam cerita film. Bahkan, sejumlah peristiwa yang muncul dalam film disebut pernah benar-benar terjadi dalam kehidupan mereka.
"Semua scene yang ada di layar itu, semua pernah terjadi pada diri saya dan anak-anak," ujar Abdullah.
Ia menuturkan, pengalaman bersama anak-anak disabilitas justru banyak memberikan kekuatan kepadanya. Dalam perjalanan tersebut, anak-anak yang semula dianggap memiliki keterbatasan justru mampu memberi semangat hingga membuat seseorang bangkit dari kondisi sulit.
"Dengan anak-anak, enam anak disabilitas yang ada di layar tadi, mereka sudah cukup lama bersama saya, 6 tahun. Dan banyak perjalanan yang cukup mengharukan," katanya.
Abdullah berharap cerita tersebut dapat mengubah cara pandang masyarakat terhadap penyandang disabilitas, khususnya anak-anak.
Ia menegaskan, mereka tidak semestinya diperlakukan berbeda, apalagi menjadi sasaran perundungan, kekerasan, atau penolakan dari keluarga.
"Mereka adalah karunia yang harus kita jaga. Mereka harus kita sayangi, berikan kesempatan kepada mereka—kesempatan untuk berkarya," ujarnya.
Menurut Abdullah, hal yang paling dibutuhkan penyandang disabilitas bukan sekadar rasa kasihan, tetapi ruang dan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan.
"Mereka tidak butuh dikasihani. Mereka butuh diberikan kesempatan untuk bisa bangkit dan memberikan karya yang luar biasa istimewa," katanya.
Editor : Ismail