Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Dari Laboratorium Sekolah ke Jepang, Riset Siswa Jabal Rahmah Mulia Berbuah Emas dan Perak
Advertisement . Scroll to see content

Bukan untuk Dikasihani, Kisah 6 Anak Disabilitas Ini Bikin Cara Pandang Kita Berubah

Jum'at, 21 Agustus 2026 | 15:31 WIB
  • author ismail
Bukan untuk Dikasihani, Kisah 6 Anak Disabilitas Ini Bikin Cara Pandang Kita Berubah
Produser film Istimewa Abdullah Mansuri bersama pemeran Aldo, Zulfadli Aldiansyah, dan pemeran Kinan, Yanni Melwani, saat cinema visit di Centre Point XXI Medan, Kamis, 20 Agustus 2026. Foto: Ismail/iNewsMedan.id

MEDAN, iNewsMedan.id — Sebuah film tidak selalu hadir sekadar untuk menghibur. Film Istimewa mencoba membawa penonton melihat kehidupan penyandang disabilitas dari sudut pandang yang lebih manusiawi: bukan sebagai objek belas kasihan, melainkan sebagai individu yang memiliki kemampuan, cita-cita, dan kesempatan untuk berkarya.

Pesan itu menjadi salah satu hal yang dibawa dalam kunjungan para pemain dan produser Istimewa ke Centre Point XXI Medan, Kamis (20/8/2026) malam. Medan menjadi kota pertama yang dikunjungi dalam rangkaian perjalanan film tersebut di Pulau Sumatera.

Produser Istimewa, Abdullah Mansuri, mengatakan film ini berangkat dari pengalaman nyata yang ia jalani bersama enam anak disabilitas yang telah bersamanya selama sekitar enam tahun.

Menurutnya, banyak pengalaman bersama anak-anak tersebut yang kemudian dituangkan ke dalam cerita film. Bahkan, sejumlah peristiwa yang muncul dalam film disebut pernah benar-benar terjadi dalam kehidupan mereka.

"Semua scene yang ada di layar itu, semua pernah terjadi pada diri saya dan anak-anak," ujar Abdullah.

Ia menuturkan, pengalaman bersama anak-anak disabilitas justru banyak memberikan kekuatan kepadanya. Dalam perjalanan tersebut, anak-anak yang semula dianggap memiliki keterbatasan justru mampu memberi semangat hingga membuat seseorang bangkit dari kondisi sulit.

"Dengan anak-anak, enam anak disabilitas yang ada di layar tadi, mereka sudah cukup lama bersama saya, 6 tahun. Dan banyak perjalanan yang cukup mengharukan," katanya.

Abdullah berharap cerita tersebut dapat mengubah cara pandang masyarakat terhadap penyandang disabilitas, khususnya anak-anak.

Ia menegaskan, mereka tidak semestinya diperlakukan berbeda, apalagi menjadi sasaran perundungan, kekerasan, atau penolakan dari keluarga.

"Mereka adalah karunia yang harus kita jaga. Mereka harus kita sayangi, berikan kesempatan kepada mereka—kesempatan untuk berkarya," ujarnya.

Menurut Abdullah, hal yang paling dibutuhkan penyandang disabilitas bukan sekadar rasa kasihan, tetapi ruang dan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan.

"Mereka tidak butuh dikasihani. Mereka butuh diberikan kesempatan untuk bisa bangkit dan memberikan karya yang luar biasa istimewa," katanya.

Melibatkan 42 Anak Disabilitas

Pesan inklusivitas itu tidak hanya dibangun melalui cerita. Proses produksi Istimewa juga melibatkan puluhan penyandang disabilitas.

Abdullah mengatakan, persiapan film berlangsung sekitar dua tahun. Tantangannya bukan hanya menemukan lokasi yang sesuai dengan cerita, tetapi juga memastikan lokasi tersebut dapat diakses para pemain disabilitas.

"Karena tidak hanya enam pemain, tetapi juga ada 42 anak disabilitas yang ikut bergabung dalam film Istimewa ini," jelasnya.

Keterlibatan mereka juga tidak berhenti sebagai pemain. Sejumlah penyandang disabilitas turut dilibatkan dalam kru produksi hingga pembuatan konten di balik layar.

Para pemain disabilitas juga menjalani proses pembekalan sebelum menjalani peran. Mereka bahkan tinggal di Jakarta selama sekitar dua bulan untuk mendapatkan pelatihan akting dan teknik bermain film.

Namun, bagi Abdullah, proses tersebut menjadi lebih mudah karena cerita yang dimainkan merupakan pengalaman yang dekat dengan kehidupan mereka.

"Kami ada coaching artis, kami ada stay mereka di Jakarta dua bulan untuk mendapatkan ilmu, teknik. Tapi faktanya memang ini cerita mereka, jadi tidak ada kesulitan sama sekali di situ," katanya.

Salah satu pemeran disabilitas, Zulfadli Aldiansyah atau Aldi, memerankan karakter Aldo dalam film tersebut. Ia mengaku bermain film merupakan salah satu cita-citanya sejak kecil.

Untuk mempersiapkan diri, Aldi harus berulang kali membaca naskah dan berlatih dialog, termasuk berlatih dengan dirinya sendiri.

"Susah waktu belajarnya. Sering baca skrip, menderita sedikit, baca skrip sampai baca lawan mainnya sama tembok tiap malam," ujar Aldi.

Meski demikian, pengalaman tersebut membuatnya bangga karena dapat menghasilkan karya sendiri.

"Alhamdulillah, senang, bangga, punya karya sendiri, punya kemampuan sendiri," katanya.

Bukan Sekadar Kisah tentang Keterbatasan

Dalam cerita Istimewa, kehidupan lima anak disabilitas di Rumah Istimewa berubah ketika sosok ayah yang selama ini merawat mereka memilih pergi setelah divonis menderita kanker.

Kelima anak itu kemudian melakukan perjalanan untuk mencari sang ayah. Dalam perjalanan, mereka menghadapi berbagai persoalan yang menguji persahabatan, keluarga, ketulusan, sekaligus cara mereka menghadapi dunia.

Bagi Abdullah, inti cerita tersebut bukan sekadar tentang keterbatasan fisik. Ada pesan mengenai keluarga, penerimaan, kehilangan, kesempatan, dan bagaimana seseorang tidak seharusnya dinilai hanya dari kekurangannya.

"Semoga film ini diterima sama hati masyarakat Indonesia. Bantu doanya aja," kata Aldi saat menyampaikan harapannya kepada penonton.

Kunjungan ke Medan pun menjadi bagian dari upaya mempertemukan cerita tersebut secara langsung dengan masyarakat. Abdullah mengatakan sambutan penonton dalam pemutaran lebih awal di Medan cukup kuat, dengan suasana studio yang diwarnai tawa hingga tangisan.

Ia berharap pesan yang dibawa film tersebut tidak berhenti ketika penonton meninggalkan bioskop, tetapi ikut mengubah cara masyarakat memperlakukan penyandang disabilitas dalam kehidupan sehari-hari.

Film Istimewa dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 17 September 2026. Film bergenre drama keluarga ini disutradarai Ruben Adrian, diproduseri Abdullah Mansuri, dan memiliki durasi 1 jam 59 menit.

Editor: Ismail

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut