Takaran Rezeki, Sebuah Rumus yang Tak Bisa Dipecahkan oleh Keserakahan
MEDAN, iNewsMedan.id - Di dunia yang bergerak dengan algoritma pencapaian, manusia sering kali terjebak dalam delusi bahwa mereka adalah arsitek tunggal atas nasibnya sendiri. Kita menghitung jam kerja, mengalikan keringat, menambah koneksi, lalu menuntut hasil yang instan dan melimpah. Namun, di atas semua hitung-hitungan matematis manusia, ada satu variabel yang tidak pernah bisa diintervensi oleh ambisi sekeras apa pun, yakni takaran rezeki.
Ia adalah sebuah rumus gaib. Sebuah ketetapan yang rigid namun adil, yang telah selesai ditulis bahkan sebelum manusia mengenal arti kata "mencari".
Keserakahan manusia modern lahir dari kegagalan membedakan antara keinginan dan rezeki. Keinginan sifatnya tak terbatas—ia menggelembung setiap kali ego diberi makan. Sementara rezeki adalah apa yang benar-benar bisa kita nikmati dan beri manfaat.
Seorang koruptor mungkin bisa menumpuk angka digital di rekening banknya hingga miliaran rupiah, atau mengoleksi sertifikat tanah dari Sabang sampai Merauke. Namun, apakah semua itu rezekinya? Belum tentu.
Ketika makanan mewah di mejanya tak bisa dimakan karena penyakit, atau tidurnya tak pernah nyenyak karena dikejar bayang-bayang ketakutan, di situlah rumus rezeki bekerja. Angka di rekening adalah milik bank, aset yang tertumpuk adalah milik ahli waris, sementara rezeki aslinya mungkin hanya semangkuk bubur hambar yang mampu dicerna oleh tubuhnya hari itu.
Editor : Vitrianda Hilba Siregar